Kamis, 28 Mei 2020

Pemulihan Ekonomi Sangat Bergantung pada Keberhasilan Pencegahan Covid-19

- 7 April 2020, 13:03 WIB
ILUSTRASI pertumbuhan ekonomi.* /DOK. PR

PIKIRAN RAKYAT - Dalam kondisi sulit saat ini, pemerintah sebaiknya tidak mengeluarkan kebijakan menaikkan cukai ataupun  pajak, baik cukai rokok maupun cukai cukai produk lainnya. Kebijakan tersebut hanya pantas dikeluarkan kalau kondisi ekonomi dan negara dalam keadaan stabil. 

"Sementara saat ini negara sedang menghadapi masalah ekonomi dan masalah kesehatan yang mengancam keselamatan jiwa manusia. Yakni, dengan masih merebaknya wabah Covid-19. Bukan hanya terjadi di Indonesia tapi juga hampir di seluruh dunia," kata Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen  Institut Pertanian Bogor (FEM IPB) Prof. Dr. Didin S. Damanhuri kepada pers di Jakarta, Senin 6 April 2020.

Disebutkan, untuk menjaga stabilitas ekonomi ini, pemerintah harus melindungi seluruh sektor ekonomi. Jika ada perusahaan yang masih bisa melakukan ekspor, dipersilahkan dan diberikan insentif. 

Baca Juga: Kenang Perjuangannya saat Operasi Tumor, Thalita Latief: Tak Terpikir Seberat Ini

“Niat menaikkan cukai, pajak, dan sebagainya itu kan asumsi sebelum (terjadi wabah) corona. Jadi mengapa dipertahankan?  (kebijakan tersebut) Sekarang sudah tidak relevan. Jangan hanya rokok saja yang dibicarakan, tapi seluruh sektor industri lainnya, karena ini tidak relevan, bahkan harusnya diberi insentif,” tegasnya.

Menurut Didin, sekarang ini yang paling penting negara menyelamatkan warga yang kemiskinan ekstrimnya mencapai 25 juta dan yang hampir miskin itu mencapai 50% atau 130 juta (jiwa)  itu. Itu yang rawan kelaparan. 

Pemulihan maupun pertumbuhan ekonomi di Indonesia sangat bergantung pada keberhasilan pemerintah menangani penyebaran Covid-19. Juga sangat tergantung kepada keberhasilan kita maupun negara negara lain menemukan obat anti atau vaksin Covid-19.

Baca Juga: Cek Fakta: Beredar Pesan Berantai di WhatsApp Soal Puncak Virus Corona, Simak Faktanya

“Jadi, bahasanya, pemerintah harus melawan corona dan dampak ekonominya. Jadi jangan lupa, kalau kita berhasil melawan corona itu adalah recovery strategy juga untuk ekonomi,” ujar Didin.

Menurut dia, untuk Indonesia, selain  tergantung pada obat anti Covid  dari Amerika atau Tiongkok yang tidak mudah ditemukan, juga tergantung dari efektiftas penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang ditetapkan pemerintah.

Untuk PSBB kita memiliki problem efektivitas penggunaan dan penyerapan dana PSBB sebesar  Rp 70 triliun  untuk melawan corona ini, apakah tepat sasaran dan tidak bocor.

Baca Juga: 5 Manfaat Teh Hijau Berbasis Bukti Penelitian, Salah Satunya Mengurangi Bau Mulut

“Jadi problemnya adalah 2 variabel, variabel efektivitas PSBB yang dananya relatif kecil dibanding dunia lain dalam menghadapi Covid ini yang bisa ratusan triliun. Kita terbalik, untuk Coronanya Rp 70 triliun dan untuk insentif ekonominya Rp 150 triliun. Makanya saya lagi kampanye setidak-tidaknya sekarang dibalik, menghadapi Covid-19 ini lebih baik yang Rp150 triliun dan nanti bisa ditingkatkan kalau ada skenario kondisi paling buruk terjadi," ujar Didin.

Halaman:

Editor: Syamsul Bachri


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X