Sabtu, 30 Mei 2020

Pandemi Covid-19, UMKM yang Paling Terpukul, Sri : Akibat Aktivitas Ekonomi yang Terbatas

- 2 April 2020, 07:08 WIB
ILUSTRASI UMKM.* /ANTARA

PIKIRAN RAKYAT - Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) memprediksi bahwa penyebaran Covid-19 akan memukul perekonomian Indonesia pada tahun 2020 hingga mencapai sekitar 2,3% sampai - 0,4%.  Usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dipredikasi menjadi yang paling terpukul akibat kondisi ini.

"Berbeda dengan tahun 1998 dimana sektor UMKM menjadi ujung tombak ekonomi. Saat ini sektor UMKM justru menjadi yang paling terpukul, karena aktivitas ekonomi yang terbatas," ujar Ketua KSSK sekaligus Menteri Keuangan Sri Mulyani saat konperensi pers daring, Rabu, 1 April 2020.

Sri mengatakan, KSSK yang terdiri Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, Ketua Dwan Komisioner Otoritas Jasa Keungan, dan Ketua Lembaga Penjamin Simpanan menyusun skenario outlook indikator utama ekonomi makro. "Kami petakan skenario dampak berat dan sangat berat sesuai dengan lama penanganan Covid-19," tuturnya.

Baca Juga: Ini Daftar Kereta Api yang Masih Beroperasi dan Dibatalkan Berangkat di Yogyakarta

Berdasarkan skenario tersebut, kontraksi pertumbuhan ekonomi didorong  oleh konsumsi rumah tangga yang turun dari 5 % pada APBN 2020 menjadi 1,6%-3,22 %. Penurunan konsumsi disebabkan keterbatasan mobilitas warga. 

Begitu juga dengan pertumbuhan ekspor yang diprediksi mengalami kontraksi -14% jingga -15,6 %. Sementara pertumbuhan impor mengalami kontraksi -14,5% hingga -16,65%. 

Sri mengatakan, pertumbuhan konsumsi pemerintah akan  tetap dipertahankan mencapai bahkan lebih tinggi dari target APBN sebesar 4,3 %.  Konsumsi pemerintah diprediksi mencapai 3,73% sampai 6,83%."Kami berupaya mempertahankan konsumsi pemerintah untuk menopang pertumbuhan ekonomi," ujarnya.

Baca Juga: Produksi APD Ritsleting Merah untuk Tenaga Medis COVID-19, Anne Avantie Ungkap Maknanya

Dia menegaskan pemerintah berupaya seoptimal mungkin agar skenario terburuk tersebut tidak terjadi. Pemerintah menetapkan tambahan belanja dan pembiayaan anggaran untuk menangani dampak Covid-19, yaitu sebesar Rp 405,1 Triliun. 

Sementara itu Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, prioritas pertama anggaran tersebut adalah untuk kesehatan sebesar Rp 75 triliun. "Terutama untuk insentif tenaga medis dan belanja penanganan kesehatan," ujarnya.

Prioritas kedua adalah untuk Social Safety Net yang akan diperluas sebesar Rp 110 Triliun. Prioritas ketiga adalah dukungan kepada Industri senilai Rp 70,1 Triliun. "Dukungan tersebut baik berupa pajak, Bea Masuk, dan KUR," ujarnya.

Baca Juga: Hadapi Virus Corona, Kemenhub akan Batasi Akses Jalan Tol dan Arteri Jabodetabek

Prioritas ke-4 adalah dukungan pembiayaan anggaran untuk program pemulihan ekonomi nasional sebesar Rp150 Triliun. Anggaran tersebut merupakan dana cadangan.

Halaman:

Editor: Syamsul Bachri


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X