Sabtu, 4 April 2020

Peneliti CIPS : Tekan Dampak Virus Corona (Covid-19), Impor Pangan Jadi Alat Strategis

- 26 Maret 2020, 08:00 WIB
ILUSTRASI cargo ekspor impor.* /DOK. CANVA

PIKIRAN RAKYAT - Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa Ann Amanta menyatakan, kebijakan pemerintah yang membuka keran impor untuk komoditas pangan merupakan kebijakan strategis yang memang perlu dilakukan saat ini.

Selain untuk menekan dampak penyebaran virus Corona (Covid-19) terhadap perekonomian, kebijakan ini juga perlu dilakukan untuk memastikan ketersediaan komoditas pangan menjelang Ramadan dan Idul Fitri.

“Pembukaan Persetujuan Impor (PI) terhadap impor pangan merupakan bentuk respon pemerintah yang adaptif terhadap situasi yang terjadi belakangan ini. Ketersediaan yang memadai di pasar akan mampu menstabilkan harga. Hal ini penting supaya seluruh lapisan masyarakat bisa tetap memenuhi kebutuhan pangannya dengan harga terjangkau,” ujar Felippa, dalam keterangan tertulisnya, kemarin.

Baca Juga: Perjalanan Masa Kecil Sujiatmi, Ibunda Jokowi yang Meninggal Dunia

Dia mengungkapkan, Indonesia menerapkan berbagai kebijakan non-tariff measures (NTM) dalam perdagangan pangan. Beberapa bentuk kebijakan NTM antara lain adalah kuota, lisensi, peraturan dan persyaratan label, kontrol harga dan tindakan anti persaingan.

Berbagai kebijakan yang membatasi impor termasuk ke dalam NTM, termasuk persyaratan PI. Padahal, lanjut Felippa, penerapan NTM di sektor pangan berdampak besar bagi ketahanan pangan karena memengaruhi kualitas, kuantitas dan harga makanan yang dikonsumsi.

Beberapa NTM diperlukan untuk melindungi konsumen. Namun banyak NTM diterapkan untuk menjadi hambatan dalam perdagangan. Padahal NTM yang menghambat perdagangan ini pada akhirnya bisa memperlambat proses pembelian barang dan proses masuknya barang. Kadang, pembelian malah dilakukan ketika harga internasional sudah mahal.

Baca Juga: Virus Corona Meluas, KSPSI Jabar Mendesak Pemerintah Meliburkan Buruh

loading...

Dia mengungkapkan, beberapa komoditas pangan strategis sudah mengalami kenaikan harga sejak awal tahun 2020, bahkan sebelum diumumkannya dua pasien pertama di Tanah Air yang terinfeksi Covid-19 oleh Presiden Joko Widodo pada 2 Maret yang lalu.

Berdasarkan data Indeks Bulanan Rumah Tangga (BuRT) yang rutin dikeluarkan oleh CIPS, terlihat adanya peningkatan harga yang cukup tajam pada pertengahan bulan Maret.

Misalnya, harga bawang putih mengalami kenaikan dari Rp 49.000 per kilogram di bulan Februari meningkat tajam menjadi di kisaran Rp 74.600 per kilogram di bulan Maret. Hal ini terjadi seiring dengan sedikitnya pasokan bawang putih di pasar dan keterlambatan impor. Merebaknya Covid-19 di Tiongkok diduga menjadi salah satu keterlambatan impor, karena negara ini merupakan tujuan utama impor bawang putih Indonesia.

Baca Juga: Sejumlah Relawan Peduli Virus Corona Semprotkan Disinfektan untuk Warga Cimenyan Bandung

Demikian pula dengan harga ayam yang merangkak naik ke rata-rata Rp 41.300/kilogram di pertengahan bulan Maret dari sebelumnya Rp 34.200/kilogram di bulan Februari. Menurut dia, pedagang mengatakan kenaikan harga ini dikarenakan harga di tingkat peternak yang memang sudah tinggi.

Halaman:

Editor: Syamsul Bachri

Artikel Terkait

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X