Senin, 1 Juni 2020

Ini Alasan Mengapa Masyarakat Indonesia Banyak Terjebak Produk Keuangan Ilegal

- 13 Maret 2020, 12:27 WIB
ILUSTRASI produk keuangan, belanja online, kartu debit, kartu kredit, mobile banking.* /PIXABAY

PIKIRAN RAKYAT - Gap literasi keuangan dengan inklusi keuangan sangat tinggi. Hal ini berbahaya karena banyaknya masyarakat yang menggunakan produk keuangan tanpa mengetahui resikonya.

Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen, Tirta Segara, mengatakan, tingkat inklusi keuangan masyarakat Indonesia pada akhir 2019 mencapai 76 persen.

Baca Juga: Simak 7 Cara Bangun Kebiasaan Ramah Lingkungan, Salah Satunya Meminimalkan Belanja Online

Sementara tingkat literasi keuangan baru mencapai 38 persen pada akhir 2019.

"Jadi risiko yang dihadapi tinggi. Masyarakat beli produk keuangan, investasi dan sebagainya, tapi tidak paham kewajibannya berapa, resikonya bagaimana.

Baca Juga: Dari PHBS hingga Pelaporan Suspect, Kemenag Beri 8 Langkah Cegah Corona untuk Madrasah, Pesantren dan PTKI

Mereka hanya tau manfaat benefitnya," ujar Tirta saat Kuliah Umum di Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat, Jumat 13 Maret 2020.

Menurut Tirta, sebelumnya pemerintah menargetkan inklusi keuangan mencapai 75 persen. Target tersebut telah tercapai pada 2019.

Baca Juga: Merasa Kasihan pada Ibu Kandungnya, Remaja Pembunuh Balita Minta Tak Dihukum Berat

Halaman:

Editor: Ari Nursanti


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X