Selasa, 7 April 2020

Sri Mulyani Beberkan 8 Reformasi yang Dilakukan Arab Saudi Terkait Kondisi Perekonomiannya

- 23 Februari 2020, 20:41 WIB
Sri Mulyani menghadiri sebuah pertemuan di Arab Saudi.* / smindrawati

PIKIRAN RAKYAT - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menghadiri pertemuan G20 Riyadh - Saudi Arabia, di Riyadh pada Sabtu 22 Februari 2020.

Hal tersebut ia sampaikan dalam akun pribadi Instagramnya, @smindrawati. Sri mengatakan bahwa tuan rumah dalam pertemuan ekonomi kelompok G20 ini memiliki profil ekonomi dan fiskal yang menarik untuk dipelajari.

Baca Juga: Baramoeda Indonesia Bantu Anak Muda Lebih Cintai Lingkungan hingga Mengolah Sampah Organik Menggunakan Lalat Tentara Hitam

 
 
 
View this post on Instagram
 
 

Pertemuan G20 Riyadh - Saudi Arabia. Hari ini saya mulai menghadiri pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G20 - bertempat di Riyadh - ibu kota negara Saudi Arabia. Sebagai tuan rumah pertemuan ekonomi kelompok G20, Saudi Arabia memiliki profil ekonomi dan fiskal (keuangan negara) yang menarik kita pelajari. Populasi 33.4 juta, saat ini negara Saudi menjalankan Vision 2030 - yaitu Progran reformasi di bidang sosial ekonomi - termasuk peranan perempuan yang semakin ditingkatkan. Perekonomian Saudi Arabia didominasi oleh minyak, sehingga kinerja ekonomi sangat dipengaruhi oleh naik turunnya harga dan produksi minyak. Maka upaya untuk diversifikasi kegiatan ekonomi untuk tidak tergantung minyak dilakukan. Menurut data IMF, Pertumbuhan ekonomi Saudi Arabia 2019 adalah 1.9% (sektor minyak tumbuh 0.7% dan non minyak 2.9%). Defisit APBN meningkat dari 5.9% PDB (2018) menjadi 6.5% PDB (2019). Utang pemerintah 24.7% dari PDB. Tingkat pengangguran untuk warga Saudi mencapai 12.5%, dimana pengangguran perempuan mencapai 32.7%. Reformasi ekonomi yang sedang dilakukan adalah: 1. menurunkan defisit APBN untuk menjadi seimbang pada tahun 2023. 2. menaikkan penerimaan pajak terutama (PPN). 3. meningkatkan harga BBM secara bertahap, setiap kuartal ada perubahan harga sesuai harga internasional. 4. mengendalikan belanja negara terutama gaji pegawai dan belanja modal yang tidak produktif 5. Meningkatkan transparansi fiskal (belanja dan pendapatan - termasuk data dari perusahaan minyak Aramco) 6. Reformasi pasar tenaga kerja, dengan melakukan mandatori rekrutmen untuk pekerja Saudi (Saudization) dalam rangka menurunkan pengangguran. Selama ini Saudi sangat tergantung kepada pekerja ekspatriat (TKA), setiap warga negara asing dipungut biaya tinggal di Saudi. 7. Penyediaan transport khusus untuk perempuan dan program penitipan anak (childcare) untuk mendukung partisipasi kerja perempuan Saudi. 8. Bantuan untuk usaha kecil diberikan dengan pemberian pinjaman bank dan peningkatan akses pembiayaan.

A post shared by Sri Mulyani Indrawati (@smindrawati) on

 

"Populasi 33.4 juta, saat ini negara Saudi menjalankan Vision 2030 - yaitu Progran reformasi di bidang sosial ekonomi - termasuk peranan perempuan yang semakin ditingkatkan," tulis Sri Mulyani.

Sebagaimana diketahui bahwa perekonomian di Arab Saudi didominasi oleh minyak, sehingga kinerja perekonomian di negara tersebut sangat dipengaruhi oleh naik dan turunnnya harga dan produksi minyak.

Sehingga upaya untuk penganekaragaman kegiatan ekonomi untuk tidak tergantung minyak tengah dilakukan oleh Arab Saudi.

Halaman:

Editor: Mitha Paradilla Rayadi

Artikel Terkait

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X