Jumat, 28 Februari 2020

Pemerintah Ketergantungan Impor Produk Pangan, Momen Lebaran Diprediksi akan Alami Defisit

- 13 Februari 2020, 21:06 WIB
Ilustrasi rempah.* /Pixabay

PIKIRAN RAKYAT - Adanya isu fluktuasi harga produk pangan yang kerap terjadi seperti daging, cabai, maupun bawang putih yang baru-baru ini akibat penerapan kebijakan masa lalu yang terlalu tergantung pada satu negara yang terlalu dominan.

Dikutip Pikiran-Rakyat.com dari laman resmi DPR RI, Anggota Komisi IV DPR RI Hamid Noor Yasin meminta Pemerintah agar mulai membenahi implementasi impor pangan yang terlalu dominan pada negara lain.

“Tiap daerah di negara kita punya potensi yang sangat menarik untuk dikembangkan pada produksi pertanian atau peternakan. Tidak sepatutnya kita lemah dalam menghadapi kelangkaan produk pangan yang seharusnya mampu kita produksi sendiri,” kritik Hamid pada Kamis, 13 Februari 2020.

Baca Juga: Ukraina Tengah Dirundung Kasus Korupsi, Bantuan Keamanan oleh Pemerintahan Donald Trump Mogok

Hamid juga menjadikan Wonogitu menjadi contoh dalam penjelasannya terkait kawasan pertanian dan bukan pertanian yang begitu luas di wilayahnya.

Adapun lahan di Wonogiri memiliki luas sawah seluas 32.569 Ha (17,88 persen), lahan untuk tegal seluas 88.638 Ha (48,85 persen), lahan bukan pertanian seluas 37.925 Ha (20,82 persen), lahan hutan rakyat seluas 4.370 Ha (2,40 persen), dan lahan hutan negara seluas 17.662 Ha (9,69 persen).

Sedangkan di Karanganyar berdasar data dinas pertaniannya, padi sawah, jagung dan kacang tanah memiliki potensi sangat besar dengan luasan lebih dari 56 ribu hektar dengan kapasitas produksi 400 ton lebih.

Baca Juga: Senat AS Ajukan UU Baru untuk Batasi Kekuatan Trump dalam Lanjutan Perang Iran

Peternakan dan perikanan Karanganyar juga cukup besar seperti domba, ayam petelur dan budi daya ikan tawar.

Halaman:

Editor: Alanna Arumsari Rachmadi

Artikel Terkait

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X