Senin, 6 April 2020

Tahun 2020, Ekonomi Indonesia Berpotensi Meningkat, Pingkan : Waspada Dinamika Perekonomian Global

- 9 Februari 2020, 19:26 WIB
ILUSTRASI pertumbuhan ekonomi. Pakar menyebut bahwa dunia usaha tak perlu khawatirkan isu ekonomi global.* /DOK. PR

PIKIRAN RAKYAT - Pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2020 berpotensi meningkat. Namun peningkatan tersebut baru dapat dicapai, jika pemerintah mampu mengantisipasi dan mengatasi berbagai faktor bisa jadi penghambat. 

Sebagaimana diketahui, pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2019 gagal melebihi atau bahkan menyamai pertumbuhan ekonomi di 2018. Pertumbuhan ekonomi 2019 berada di angka 5,02 persen, lebih rendah dari di 2018 yang mencapai 5,17 persen.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies Pingkan Audrine Kosijungan mengatakan, pemerintah perlu tetap waspada dan mengantisipasi berbagai kemungkinan yang dapat terjadi di 2020.

Baca Juga: Pekerja Tiongkok Tewas di Proyek Meikarta, Dinas Kesehatan Bekasi Jelaskan Soal Dugaan Virus Corona

Kondisi yang dialami Indonesia pada tahun lalu sejalan dengan dinamika perekonomian global.

Sepanjang tahun lalu, perlambatan ekonomi di tataran global dipicu oleh beberapa hal, seperti perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok, menurunnya aktivitas manufaktur antarnegara, kondisi geopolitik, dan meningkatnya ketegangan kawasan.

Kondisi ini yang memberikan ketidakpastian pada pelaku bisnis dan investor seperti di Benua Eropa karena Brexit dan demonstrasi di Hong Kong.

Baca Juga: Usai Dokter yang Peringatkan Soal Virus Corona Meninggal, 10 Profesor Wuhan Tuntut Kebebasan Berbicara ke Pemerintah Tiongkok

Kendati demikian, lanjut dia, di tengah ketidakpastian global tersebut, Indonesia masih terbilang aman walaupun terjadi penurunan pada pertumbuhan ekonomi secara nasional secara year-on-year (yoy). Hal ini ditunjukkan dengan posisi Indonesia dalam lingkup G-20.

Pada tahun 2019, Indonesia menempati posisi kedua tertinggi dalam aspek pertumbuhan ekonomi, terpaut oleh Tiongkok di posisi pertama dengan pertumbuhan yang mencapai 6,1 persen.

India, Korea Selatan, dan Amerika Serikat menyusul di bawah Indonesia pada posisi ketiga sampai kelima, dengan mencatatkan pertumbuhan 4,7 persen, 2,2 persen dan 2,1 persen.

Baca Juga: Barisan Kiper Persib Bandung Harus Benci Kebobolan, Pelatih: Saya Punya Gaya Sendiri

“Pertumbuhan ekonomi di 2020 berpeluang untuk meningkat. Namun pemerintah harus tetap waspada dan bergerak cepat mengatasi setiap kondisi, yang berpeluang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia,” tuturnya, dalam keterangan tertulisnya, Minggu, 9 Februari 2020.

Dia menuturkan, beberapa poin yang menghambat pertumbuhan pada tahun lalu mulai bergerak ke arah yang positif. Tensi geopolitik mulai mereda dengan adanya kejelasan dari keluarnya Inggris dari Uni Eropa per 31 Januari 2020 lalu.

Perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok juga tertahan dengan disepakatinya US-Tiongkok Trade Deal tahap Pertama.

Baca Juga: Kolam Jaring Apung Waduk Jatiluhur Dikurangi Sesuai SK Ridwan Kamil, Kolam Air Tenang Diuji Coba

Kesepakatan tahap pertama antara kedua negara ini merupakan perkembangan besar dalam perang dagang yang telah terjadi selama kurun waktu 20 bulan belakangan.

Sebagai imbalan atas keringanan tarif Amerika Serikat, Tiongkok akan meningkatkan pembelian barang-barang Amerika Serikat serta mengatasi kekhawatiran yang berkaitan dengan perlindungan kekayaan intelektual, manipulasi mata uang dan pertanian.

Namun perkembangan situasi global sepanjang Januari 2020 silam juga terbilang memberikan dampak pada perekonomian Indonesia.

Baca Juga: Kencan Justru Bikin Parno? Simak 3 Tips Berikut

“Fenomena global yaitu merebaknya virus Corona di Tiongkok tentu memengaruhi neraca perdagangan Indonesia, karena Tiongkok merupakan salah satu mitra dagang utama kita dengan valuasi mencapai USD 72,8 miliar pada tahun 2019, seperti yang dicatatkan oleh Kementerian Perdagangan,” ujarnya.

Apalagi, neraca perdagangan Indonesia dengan Tiongkok masih mengalami defisit sebesar USD 16,9 miliar di tahun 2019. Angka ini turun dari periode serupa pada tahun 2018 sebesar USD 18,4 miliar yang juga merupakan defisit terbesar Indonesia dengan Tiongkok sejak 2008.

"Kalau Indonesia tidak mengambil langkah strategis menyikapi keadaan seperti ini, tidak menutup kemungkinan neraca dagang kita dengan Tiongkok terdampak untuk kedepannya," ucapnya. *** 


Editor: Syamsul Bachri

Artikel Terkait

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X