Rabu, 3 Juni 2020

Gandasari Coffee: Racikan Mantan PMI, Kopi Tradisional Indonesia Ini Tembus Pasar Amerika dan Eropa

- 17 Desember 2019, 11:39 WIB
/AI RIKA RACHMAWATI/PR

SEMPAT 15 tahun menjadi tenaga kerja luar negeri atau pekerja migran Indonesia (PMI) di tiga negara, membantu Eni Wartuti, pemilik Gandasari Coffee memperkuat keterampilan bisnis dan mental wirausaha. Tak heran, kendati sempat terjatuh hingga ke titik nol, ia mampu segera bangkit untuk kembali membangun bisnis yang baru.

Eni berprinsip bahwa jika ingin menjadi besar, seorang pengusaha tidak boleh lemah. Menjadi pengusaha harus kuat dan cepat dalam mengambil setiap peluang yang datang.

"Saya menjadi PMI sejak 1998 sampai 2014. Saya sempat di Saudi Arabia 2 tahun, Taiwan 3 tahun, dan Hongkong 10 tahun," ujarnya ditemui di Gelar Produk PMI 2014 di Kantor Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Bandung, Jalan Soekarno Hatta, Bandung, Senin 16 Desember 2019.

Selama di Hongkong ia kerap mengisi hari liburnya untuk menjual produk-produk asal Indonesia. Dengan dibantu empat sampai lima pekerja, ia sanggup mengantongi keuntungan bersih hingga Rp 10 juta.

"Biasanya Minggu saya jualan dari pagi sampai sore. Pagi bawa banyak barang, sore sudah habis," katanya.

Baca Juga: Temui 200 TKW di Malaysia, Ida Fauziyah: Jangan Ikut Radikal

Sekembalinya ke Indonesia pada 2014, ia memutuskan untuk berbisnis. Setidaknya ada tiga bisnis yang sempat ia jalankan sebelum akhirnya menggeluti bisnis kopi dengan brand Gandasari Coffee.

"Saya sempat menjalankan bisnis properti, pengiriman khusus luar negeri, dan fesyen. Akan tetapi, akhirnya bangkrut, semua habis. Saya harus mulai dari nol. Modal minus," ujarnya.

Pada akhir 2016, ia memulai usaha kopi murni, dimulai dari 1 kilogram. Berkat keterampilan pemasaran yang jitu dan jejaring yang kuat, perlahan-lahan ia berhasil bangkit.

Halaman:

Editor: Gugum Rachmat Gumilar


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X