Jabar Harus Aktif Buka Pasar Ekspor Baru

- 6 Oktober 2019, 22:38 WIB
ILUSTRASI.*/REUTERS

“Antisipasinya cari solusi alternatif tujuan ekspor yang baru, jangan hanya mengandalkan AS, Jepang, atau Tiongkok. Masih cukup banyak negara yang pertumbuhan ekonominya cukup solid,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jabar Dody Herlando mengatakan meski hingga saat ini (Januari-Agustus 2019) neraca perdagangan Jabar 2019 masih mengalami surplus 12,79 miliar hal tersebut tetap harus menjadi perhatian. Pasalnya, angka surplus yang dibukukan semakin mengecil. Bahkan, kinerja ekspor Jabar pun mulai mendapatkan saingan baru, yakni Vietnam yang pertumbuhan ekspornya signifikans.

“Dengan kondisi seperti ini, menunjukkan skala ekonominya tidak berkembang,” ucapnya.

Berdasarkan data BPS Jabar kinerja ekspor Jabar sepanjang 2019 kian tertekan. Tercatat ekspor Jabar selama Januari-Agustus 2019 turun 0,40% menjadi 20,13 miliar Dolar AS dibandingkan periode yang sama 2018 yang membukukan angka 20,211 miliar Dolar AS.

Nilai ekspor 10 golongan barang utama lebih rendah dibanding tahun sebelumnya, rata-rata turun sekitar 3,69%. Hanya ada 3 kelompok yang mengalami peningkatan, yakni serat stafel buatan, karet dan barang dari karet, serta kendaraan dan bagiannya.

Dari sisi negara tujuan utama pertumbuhannya negatif rata-rata 1,57%. Hanya ekspor ke Amerika Serikat, Singapura, dan Thailand yang menunjukkan peningkatan masing-masing 4,62%, 35,75%, dan 0,79%. Sedangkan 11 negara lainnya mengalami penurunan dengan nilai bervariasi antara 1,04 sampai dengan 20,84%.***

Halaman:

Editor: Siska Nirmala


Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X