Minggu, 29 Maret 2020

Stok Bulog Harus Mampu Tahan Naiknya Harga Beras

- 3 Oktober 2019, 21:45 WIB
ILUSTRASI.*/DOK. KABAR BANTEN

JAKARTA, (PR).- Harga beras mengalami inflasi saat sektor bahan makanan deflasi hingga 1,97% pada bulan September lalu. Kenaikan harga di komoditas ini dinilai merupakan imbas dari minimnya produksi. Bahkan, inflasi pada beras diproyeksikan terus berlanjut dengan melejitnya kenaikan harga yang cukup tinggi pada Desember 2019 hingga Januari 2020.

Melihat kondisi ini, stok beras Bulog dikhawatirkan tidak akan mampu mengamankan permintaan sampai akhir tahun. Pengamat ekonomi dari INDEF Rusli Abdulah mengungkapkan, kenaikan harga beras menjadi sulit dikendalikan karena memasuki kuartal akhir yang dimulai dari September, rata-rata produksi beras hanya 1,5 juta ton.

Padahal, kebutuhan konsumsi masyarakat tiap bulan mencapai 2,5 juta ton. "Ada gap antara supply and demand (permintaan dan penawaran),” ujar Rusli Abdullah kepada wartawan di Jakarta, Kamis 3 Oktober 2019.

Jika memang demikian, kondisi ini mendorong harga beras jadi mahal. Bahkan melihat trennya, Rusli memprediksi harga beras akan terus meningkat sampai Desember mendatang. Penyebabnya karena pada periode ini tidak ada panen raya. Diperkirakan, stok beras di Bulog hanya akan cukup sampai November tahun ini. Kondisi tipisnya pasokan ini bisa berimbas kepada melambung tingginya harga beras pada Desember dan Januari 2020.

Sebenarnya, ujar Rusli, kondisi ini bukan hanya terjadi tahun 2019. Siklus semacam ini terjadi juga di tahun-tahun lalu. Kondisinya berulang sebab petani umumnya akan menunggu musim penghujan untuk mulai menanam.

loading...

Ia pun meminta pemerintah membuat manajemen stok beras yang lebih baik. Dengan begitu kenaikan harga beras diharapkan tidak jadi momok tahunan yang harus dialami masyarakat. "Harus ada stok beras yang cukup untuk kebutuhan sampai masa panen tiba,” tegasnya.

Sudah minus

Pengamat pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas menyebutkan, harga beras yang meningkat ditopang oleh defisit produksi dibandingkan konsumsi bulanan. Konsumsi masyarakat masih bisa diselamatkan karena ditopang oleh stok yang dibentuk dari panen sebelumnya.

“Mulai September itu biasanya sudah minus. Dalam arti yang dipanen dengan konsumsi bulanan kan lebih besar konsumsi bulanan,” ujarnya.

Menurut dia, produksi pada masa panen raya kedua yang jatuh pada kisaran Agustus-September memang lebih sedikit dibandingkan panen raya pertama yang berlangsung pada Maret-April. Apalagi, pada tahun ini, di mana musim tanam kedua mundur sebulan akibat pergeseran musim.

Halaman:

Editor: ella yuniaperdani

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X