Senin, 6 April 2020

Penetrasi Asuransi Jiwa Melalui Jalur Digital Masih Rendah

- 27 September 2019, 23:41 WIB
ILUSTRASI asuransi.*/ DOK. PIKIRAN RAKYAT

JAKARTA, (PR).- Penetrasi asuransi jiwa di tanah air terbilang masih cukup rendah, sementara penetrasi penggunaan internet di Indonesia sangat tinggi. Ini merupakan peluang bagi industri asuransi jiwa untuk melakukan transformasi digital.

“Besarnya potensi pasar industri asuransi di Indonesia ini harus segera digarap. Beragam kemudahan teknologi saat ini, kami yakini dapat mendorong percepatan penetrasi pasar, khususnya anak-anak milenial,” kata Ketua Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), Budi Tampubolon, dalam Seminar Digital & Risk Management in Insurance (DRIM AAJI 2019 bertema “Capturing Potentials among Digital Millennials”, di  Nusa Dua, Bali, Jumat, 27 September 2019.

Seminar yang dibuka Kepala Departemen Pengawasan Industri Keuangan Non-Bank Otoritas Jasa Keuangan, Ahmad Nasrullah, merupakan salah satu program kerja AAJI dalam meningkatkan penetrasi dan inklusif keuangan bagi masyarakat Indonesia. Melalui DRIM 2019, industri asuransi diharapkan dapat menyiapkan strategi yang tepat guna meningkatkan penetrasi asuransi jiwa di Indonesia.

Berkaitan dengan materi seminar, survei khusus dilakukan oleh Nielsen terkait pandangan generasi milenial terhadap asuransi dan kebutuhan di masa depan. Hasil survei memperlihatkan, segmen milenial (25-38tahun) sudah memahami pentingnya asuransi dan paham bahwa mereka dapat membelinya melalui jalur distribusi digital.

Namun, produk asuransi jiwa lebih dikenal dan diminati oleh segmen usia lebih tua atau late millennial (30-38 tahun). Sementara, terkait kesadaran berasuransi, segmen usia muda atau Gen Z (17-24 tahun) sudah mulai sadar akan pentingnya perlindungan asuransi.

Hasil survei juga memperlihatkan bahwa peran agen (financial advisor) yang menginformasikan produk dan layanan asuransi jiwa masih menjadi jalur yang utama. Lebih dari 77% dari total premi baru dihasilkan dari jalur distribusi keagenan dan bancassurance. Meski begitu, penjualan jalur digital (digital insurance) sudah mulai terlihat, yaitu 0,01% dari total premi baru Rp54,57 triliun.

Budi mengatakan, berdasarkan hasil survei itu, penetrasi penggunaan internet dan pengguna media sosial diharapkan dapat mendorong penetrasi pasar asuransi di Indonesia. Dengan wilayah yang sangat luas dan ribuan pulau, komunikasi digital adalah kunci utama mendekatkan diri dengan segmen milenial dan gen Z tersebut.

OJK Optimistis

Ahmad Nasrullah mengatakan, OJK optimistis dengan digitalisasi dalam industri keuangan, baik perbankan dan nonperbankan seperti asuransi. Digitalisasi akan mendorong peningkatan akses keuangan dan literasi di masyarakat.

Halaman:

Editor: Vebertina Manihuruk

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X