Kamis, 20 Februari 2020

Harga Garam Sempat Rp 2.500/Kg, Giliran Petani Panen Cuma Rp 400/Kg

- 26 September 2019, 17:22 WIB
FOTO ilustrasi garam.*/DOK. KABAR BANTEN

SERANG,(PR).- Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Kabupaten Serang Suhardjo menilai anjloknya harga garam menjadi Rp 300-500 per kilogram akibat ada permainan impor. Oleh karena itu dirinya pun sangat kecewa dengan kondisi tersebut.

“Garam adalah pekerjaan yang sangat mudah, bisa dilakukan oleh masyarakat dengan gampang, modalnya hanya tiga, air laut, sinar matahatri dan angin. Itu bisa dengan mudah dan diberikan oleh Allah SWT. Tapi sekarang kita produksi, harga jatuh karena ada permainan impor pusat,” ujar Kepala DKPP Kabupaten Serang Suhardjo, Kamis 26 September 2019.

Suhardjo mengatakan, akan menyampaikan keluhan tersebut ke pusat. Ia akan meminta agar bisa mengendalikan impor garam sehingga hasil garam Kabupaten Serang bisa dinikmati oleh masyarakat. Sebab perlu diketahui, jika kantong kemiskinan paling banyak di daerah pesisir pantai. “Dengan adanya garam, bisa angkat perekonomian. Tapi tolong berpihak pada kita jangan berpihak ke investor dan importir. Tolong perhatikan masyarakat,” tuturnya.

Dirinya mengaku kecewa dengan anjloknya harga garam tersebut. Pada Januari lalu harga garam masih diangka Rp 2.500 per kilogram, akan tetapi saat panen harganya anjlok menjadi Rp 400 per kilogram. “Sudah gitu jualnya juga susah. Karena cadangan impor masih banyak, kalau sudah habis baru (laku),” ucapnya.

Oleh karena itu, ia akan meminta kepada Gubernur Banten agar membuat regulasi tentang industri di Banten yang menggunakan bahan baku garam. Agar mengutamakan garam lokal sebelum dari impor. “Itu bisa dibuat pergub, kalau melanggar ada sanksi. Sekarang bukan enggak laku atau kalah saing, tapi permainan impor,” tuturnya.

Membuat inovasi

Disinggung langkah ke depan, Suhardjo mengatakan akan berupaya membuat inovasi dengan mengolah garam konsumsi. Minimal garam itu bisa untuk keperluan warga lokal Banten. Garam itu diberikan yodium sehingga jadi garam kapur atau garam meja. “Kedua kita perlu gudang minimal kapasitas 2.000 ton. Jadi produksi disimpan dan saat musim hujan baru dijual. Itu akan naik minimal harga Rp 1.000 per kilogram kita sudah untuk karena biaya produksi Rp 400,” katanya.

Saat ini, kata dia, di Kabupaten Serang sudah ada 8 orang petani garam yang tersebar di Kecamatan Pontang dan Tirtayasa. Luasan lahan yang tergarap sebanyak 32 hektare dengan produktivitas 3 ribu ton. “Ke depan kita kembangkan lagi, tahun ini ada dari KKP 30 hektar dan 2020 ada bantuan 30 hektar lagi. Total potensi yang belum tergarap 6.421 hektare. Jika tergarap semua minimal kita bisa suplai 10 persen kebutuhan nasional,” tuturnya.

Sebelumnya, petani garam Kecamatan Pontang Amrullah mengatakan, harga garam saat ini memprihatinkan. Bahkan garam hasil produksinya tidak bisa keluar karena harga anjlok. “Anjlok sampai RP 300-500 per kilogram ditawar tengkulak,” ujarnya.

Halaman:

Editor: anef

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X