BI Turunkan Uang Muka Kendaraan Bermotor

- 20 September 2019, 22:50 WIB
ILUSTRASI logo Bank Indonesia.*

JAKARTA,  (PR).- Langkah Bank Indonesia (BI) menurunkan uang muka kendaraan bermotor dinilai bisa meningkatkan daya beli masyarakat.  Meskipun kebijakan uang muka ini belum tentu tercatat pada komponen konsumsi rumah tangga hingga akhir tahun. 

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution memgatakan kebijakan relaksasi makroprudensial Bank Indonesia sangat dibutuhkan di tengah perlambatan ekonomi global. Hal itu memperbesar ketidakpastian global yang berdampak besar bagi perekonomian nasional. 

"Itu sebabnya perlu ada kemudahan fasilitas supaya daya belinya naik," ujar Darmin di Jakarta, Jumat 20 September 2019.

Dia mengatakan,  saat ini kinerja penjualan kendaraan bermotor cenderung turun. Sementara kinerja perdagangan internasional hanya tumbuh 2,5 % di tahun 2019. Angka tersebut terendah setekah krisis 10 tahun lalu. 

Seperti diketahui sebelumnya Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia memutuskan menurunkan uang muka kredit pembiayaan properti menjadi 5%. Selain itu BI juga menurunkan uang muka kendaraan bermotor antara 5-10%. Sementara uang muka kendaraan bermotor yang berwawasan lingkungan sebesar 5%.

loading...

Tidak mengalami resesi

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan,  ketentuan uang muka tersebut berlaku mulai 2 Desember 2019. "Kami juga terus memperkuat kebijakan sistem pembayaran dan pendalaman pasar keuangan guna mendukung pertumbuhan ekonomi," katanya. 

Meskipun perlambatan ekonomi dunia mengalami mengalami perpanjangan, Perry menegaskan bahwa arah pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak mengalami resesi. Menurut dia, definisi resesi adalah jika ekonomi suatu negara mengalami pertumbuhan negatif dua triwulan berturut turut. 

Perry mengatakan,  Bank Indonesia memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2019 berkisar 5,1 % . Sementara pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020 dipredikasi berada di kisaran 5,2%. Itu berarti,  pertumbuhan ekonomi Indonesia masih positif dan tidak tergolong dalam definisi resesi

Pertumbuhan ekonomi global juga diperkirakan masih tumbuh positif meskipun mengalami perlambatan. Sebelumnya BI memprediksi jika pertumbuhan ekonomi global mencapai 3,2 % pada 2019. Meskipun demikian,  eskalasi ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok menyebabkan pertumbuhan ekonomi global diprediksi lebih rendah dari perkiraan.

Halaman:

Editor: anef


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X