Jumat, 10 April 2020

Berlebihan, Ada 70 Regulasi di Sektor Tekstil yang Akibatkan Industri Tidak Bertumbuh

- 11 September 2019, 18:11 WIB
PEKERJA menyelesaikan produksi kain sarung di Pabrik Tekstil Kawasan Industri Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Jumat, 4 Januari 2019.*/ANTARA

Pertumbuhan konsumsi tidak dinikmati sektor hulu industri tekstil

Sekretaris Jenderal Asosiasi Serat dan Benang Filament Indonesia, Redma Gita Wiraswasta, menyatakan, pertumbuhan konsumsi industri tekstil saat ini cukup baik yaitu mencapai 4-5 %. Meskipun demikian, pertumbuhan konsumsi itu tidak pernah dinikmati sektor hulu. 

"Di sektor hulu, sekarang masalah utamanya adakah market-nya tidak bergerak. Pertumbuhan konsumsi tidak pernah dinikmati sektor dalam negeri," ujarnya. 

Dia mengatakan, produk impor cukup banyak menginvansi pasar domestik. Misalnya, impor kain pada 2008 mencapai 300 ribu ton. Sepuluh tahun kemudian, impornya telah mencapai 900 ribu ton. 

"Ini didorong adanya regulasi yang pro-impor. Misalnya seperti bahan baku impor untuk produk ekspor tidak terkena ppn, tapi bahan baku lokal terkena ppn,” ucapnya. 

Sekretaris Asosiasi Pertekstilan Indonesia, Ernovian G. Ismi, mengatakan, industri tekstil bisa dibilang merupakan yang paling lemah. "Sejak 2010, kita sudah minus 1,84 miliar dolar AS, sekarang sudah minus 4,2 miliar dolar AS,” ujar Ernovian.***

Halaman:

Editor: Vebertina Manihuruk

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X