Senin, 16 Desember 2019

Petani Kopi Jabar Ambil Peluang saat Pasokan Daerah Lain Kosong

- 16 Agustus 2019, 07:44 WIB
POPULASI tanaman kopi jenis robusta yang terdapat di Desa Cibodas, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung.*/DOK. KOPERASI NKLB

BANDUNG, (PR).- Panenan kopi jenis robusta asal Jawa Barat yang juga kini sedang panen bersamaan dengan jenis arabika, bersiap mengisi pasar domestik dan ekspor dengan prediksi terjadinya kekosongan pasokan dari sebagian wilayah lain. Peluang tersebut muncul, setelah pada salah satu sentra kopi robusta Indonesia, yaitu di Rejanglebong, banyak ditebangi oleh petaninya dengan alasan harganya murah.

Wakil Ketua Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Jawa Barat, Iyus Supriatna, di Bandung, Kamis 15 Agustus 2019 menanggapi kabar banyaknya tanaman kopi di Rejanglebong, Provinsi Bengkulu yang ditebangi petani dengan alasan harganya rendah. Iyus Supriatna menilai, kondisi itu justru bakal memberikan peluang bagi panenan kopi robusta asal Jawa Barat, untuk mengisi kekosongan pasokan dari Bengkulu.

“Apalagi, kopi robusta Jawa Barat, kualitasnya dan citarasanya lebih baik dari sejumlah kopi sentra kopi robusta dari daerah lainnya di Indonesia, misalnya Lampung. Selain itu, kopi robusta asal Jawa Barat ukurannya juga lebih besar besar, dan umumnya tumbuh di dataran yang lebih tinggi,” ujar Iyus Supriatna.

Menurut Iyus Supriatna, ada pula kopi robusta Borbor harganya lebih tinggi dari Robusta biasa. Namun kKualitas asalan/abras lebih murah dari kualitas yang telah disortir. Harga per kilogramnya sangat bervariasi, yaitu dari mulai Rp.20.000/kg sampai Rp.32.000/kg.

Pelaku bisnis agro dari Koperasi Nusantara Kiat Lestari Banjaran, Kabupaten Bandung, Dini, mengatakan, bahwa jika benar terjadi penebangan pohon-pohon kopi robusta di Bengkulu, maka akan mengurangi pasokan ke Provinsi Lampung. Soalnya, selama ini panenan kopi robusta asal Bengkulu, umumnya dijual ke Lampung.

"Ini sebagai bentuk protes atas rendahnya harga jual biji kopi kering di tingkat petani, saat ini harga biji kopi kering Rp15.000 per kg, harganya turun dari sebelumnya berkisar dari Rp22.000 per kg," kata Sudirman, salah seorang petani kopi di Desa IV Suku Menanti, Kecamatan Sindang Dataran, Selasa.

Turunnya harga jual biji kopi  membuat semangat petani kopi mengendur dan jika harganya terus anjlok tidak menutup kemungkinan mereka akan beralih menanam tanaman palawija maupun jenis tanaman lainnya. Penurunan harga jual biji kopi di tingkat petani itu sangat berdampak dengan mereka, karena produksi biji kopi yang dihasilkan kebun mereka juga sedang menurun akibat pengaruh cuaca.

Usaha menjadi petani kopi itu mayoritas dilakoni warga daerah itu dan sudah mereka tekuni secara turun temurun dari orangtua mereka, namun rendahnya harga jual biji kopi kali ini membuat mereka tergoda untuk berpaling menanam aneka jenis sayuran yang saat ini harganya sedang mahal seperti cabai merah, cabai rawit dan beberapa jenis sayuran lainnya.

"Harga kopi turun sejak sebulan belakangan ini dari Rp22.000/kg menjadi Rp 17.000/kg  dan kemudian turun lagi menjadi Rp15.000/kg untuk kualitas rendah dan kualitas bagus Rp16.000/kg," urainya.


Halaman:

Editor: anef

Tags

Komentar

Terkini

X