Jumat, 13 Desember 2019

Bertanam di Pekarangan, Kampung Cigiringsing Menjadi Hijau

- 15 Agustus 2019, 08:52 WIB
SEJUMLAH warga Kampung Cigiringsing,Kecamatan Ujungberung, Kota Bandung, memanen tanaman mereka, baru-baru ini.*/DOK. CIGIRINGSING BERKEBUN

BANDUNG, (PR).- Langkah pemanfaatan lahan pekarangan dan lingkungan dengan budidaya sejumlah tanaman sayuran, membawa banyak manfaat bagi sejumlah warga Kampung Cigiringsing, Kelurahan Pasir Endah, Kecamatan Ujungberung, Bandung. Selain kawasan lingkungan menjadi hijau, hasil panen tersebut mampu menjadikan sumber ketahanan pangan sekaligus usaha sampingan bagi warga dari menjual sayuran. 

Salah seorang pemuda penggerak usaha bertani pemanfaatan pekarangan tersebut, Asep Tristian, di Ujingberung dengan nama kelompok Cigiringsing Berkebun, Rabu 14 Agustus 2019, menunjukan, bahwa usaha bertanam di pekarangan di Cigiringsing, kini juga disukai kalangan muda. Sebelumnya, bertanam masih kebanyakan oleh kalangan bapak-bapak atau ibu-ibu rumah tangga, namun belakangan kalangan muda yang tergabung ke dalam karang taruna pun ramai-ramai mengikuti.

Tampak sejumlah komoditas yang diusahakan, terutama jenis hijauan dan cabai, selain dipanen untuk kebutuhan konsumsi sendiri, tanaman-tanaman tersebut sebagian sudah dapat dijual hasilnya ke pasar. Bahkan saat harga cengek domba dan cabai kembali mahal, sejumlah masyarakat setempat tampak tenang-tenang saja memperoleh pasokan secara mandiri.  

Tampak pula, walau luasan media yang ada jumlahnya rata-rata hanya 2 meter persegi sampai 20 meter persegi, namun warga setempat bersemangat bertanam. Apalagi hasilnya sudah dirasakan, mampu memotivasi masyarakat lainnya pun ikut bertanam di pekarangan.

Menurut Asep Tristian pemanfaatan lahan pekarangan dan lingkungan untuk budidaya sayuran di Cigiringsing dimulai tahun 2014 namun kemudian hanya sebentar. Namun tahun 2017, Asep bersama Beni Komara yang merupakan penyuluh dari Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Kota Bandung, kemudian kembali memotivasi masyarakat Cigiringsing kembali melakukan bertanam di lahan pekarangan.

Kini hampir pada setiap rukun tetangga (RT) sudah ada bertanam sayuran di pekarangan, dan yang menggembirakan, menurut Asep Tristian, adalah bermunculannya minat generasi milenial untuk menekuni usaha bertani. Walau lahannya sangat terbatas, namun tampak bahwa bertani merupakan sesuatu pengalaman yang menyenangkan bagi kalangan muda, apalagi hasilnya dapat dijual untuk penghasilan.

“Awalnya, yang bertanam masih ibu-ibu dan bapak-bapak, namun kini generasi muda yang tergabung dalam karangtaruna pun menjadi tertarik. Mereka semua merasakan manfaat dapat bertani di pekarangan, terutama untuk ketahanan pangan dan usaha sampingan yang sebenarnya menyenangkan,” ujar Asep Tristian. 

Salah satu manfaat yang paling terasa, disebutkan, adalah bertanam cengek, khususnya cengek domba sebanyak 5.000 pohon. Tanaman-tanaman cengek tersebut, dibudidayakan di atas parit yang melintasi Kampung Cigiringsing dan hasilnya dinikmati, dan sangat bermanfaat manakala harga cabe sedang kembali mahal. 

Khusus kalangan ibu-ibu, menurut Asep Tristian, kini menjadi memiliki usaha sampingan dari bertanam sayur di skala pekarangan ini dengan pendapatan rata-rata Rp 300 ribu s.d 1 juta per bulan. Bahkan, untuk komoditas-komoditas hijauan dan cengek, sudah dapat dipasarkan sendiri, dalam sepekan rata-rata tiga kali dapat dijual, terutama ke pasar sekitar lingkungan setempat.


Halaman:

Editor: anef

Tags

Komentar

Terkini

X