Jumat, 29 Mei 2020

Pemerintah Undang Investor Bangun Terminal Tipe A

- 31 Juli 2019, 21:25 WIB
ANTREAN bus memenuhi area Terminal Leuwi Panjang, Kota Bandung, Kamis, 9 Mei 2019. Pemkot Bandung berencana menyerahkan Terminal Leuwi Panjang kepada Kementrian Perhubungan untuk dibangun dan dikelola lebih efektif.*/ARMIN ABDUL JABBAR/PR

JAKARTA, (PR).- Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan mengajak investor BUMN, swasta nasional, maupun asing untuk bekerja sama dalam membangun, mengembangkan atau mengoperasikan Terminal Tipe A dari 128 terminal bus yang ada. Di Jawa Barat terminal yang ditawarkan antara lain Terminal Leuwipanjang-Bandung, Terminal Guntur Melati-Garut, dan Terminal Harjamukti-Cirebon.

"Kalau terminal yang 20  sudah kita anggarkan dari APBN Tahun 2020, kita mulai pekerjaan sekarang dalam tahap perencanaan. Tadinya kan 40, berarti 20 sisanya terbuka untuk swasta," kata Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Budi Setiyadi di sela “Investor Gathering Proyek KPBU Prasarana Transportasi Jalan di Jakarta, Rabu, 31 Juli 2019.

Budi mengatakan, pihaknya membuka kerja sama, baik itu kerja sama pemanfaatan (KSP) maupun Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU). Nilai investasi dari 20 Terminal Tipe A, yakni Rp 750 miliar yang direncanakan akan dilakukan lelang tidak mengikat pada Desember tahun 2019 ini.

Terminal-terminal tersebut, di antaranya Terminal Amplas-Medan, Terminal Rajabasa-Lampung, Terminal Pakupatan (Banten), Terminal Leuwipanjang-Bandung, Terminal Guntur Melati-Garut, Terminal Harjamukti-Cirebon, Terminal Tegal, Terminal Tingkir, Terminal Pekalongan, Terminal Giwangan, Terminal Mangkang, Terminal Demak, Terminal Purwokerto, Terminal Tirtonadi-Solo, Terminal Giwangan, Terminal Arjosari, Terminal Mengwi, Terminal Bolaang Mongondow, Terminal Induk Lumpue-Pare-Pare, Terminal Puwatu-Kendari dan Terminal Samarinda.

Dia menyebutkan, sejumlah investor telah menyatakan minatnya, baik swasta nasional maupun asing, terutama untuk terminal di Sukabumi dan Bekasi. "Ada di Sukabumi, sudah dibuat gambar, hotel ada ballroom dan di sana ada mal serta terkoneksi dengan tempat hiburan di sekitar situ. Kalau di Bekasi dari Korea, Jepang dan China berminat. Di Indonesia banyak Agen Pemegang Merk dari Jepang mungkin mereka berkepentingan juga," katanya.

Sementara itu, investor yang menyetakan minat di Sukabumi merupakan pebisnis properti dari Batam yang sudah berpengalaman mengelola properti di Singapura. Apabila kerja sama tersebut berhasil dilakukan, kata Budi, untuk KPBU di Bekasi saja bisa menghemat sebesar Rp 1,6 triliun.

Budi mengatakan, sebagai jaminan kepada calon investor, Kemehub menyediakan pendampingan dari PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero) dalam proses investasi agar berjalan dengan baik. "Kita ada pendampingan dari PT PII yang menjamin kelangsungan investasi berjalan dan berproses dengan baik. Kan ini butuh waktu beberapa tahun untuk mengembalikan dana investor itu," katanya.

Pelayanan seperti bandara

Dibukanya peluang kerja sama dengan BUMN maupun swasta, kata Dirjen, agar ada peningkatan layanan karena pihaknya menargetkan standar pelayanan seperti bandara. "Sekarang kondisi terminal banyak yang sudah enggak sesuai dengan nilai-nilai sekarang ini, kan harusnya ada gabungan antara kegunaan dengan gaya hidup. Kalau yang lama itu kurang mendukung, itu didorong dengan KSP," katanya.

Sekretaris Jenderal Kementerian Perhubungan Djoko Sasono mengatakan awalnya Ditjen Darat mendapatkan tambahan anggaran Rp 1 triliun, namun saat ini dipotong Rp 500 miliar. Dijelaskan, anggaran sebesar Rp 500 miliar dialokasikan untuk kebutuhan pembiayaan lain. 

Halaman:

Editor: Eva Fahas


Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X