Rabu, 26 Februari 2020

Menabung Emas ala Warga Desa  Panggungharjo Yogyakarta

- 28 Juli 2019, 10:19 WIB
AKTIVITAS di titik kumpul pemilahan sampah PT Pegadaian di Desa Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, Sabtu 27 Juli 2019.*/SUHIRLAN ANDRIYANTO/PR

SORE itu, Wojos (45) dan tujuh rekannya berbagi tugas di bekas tanah kas Desa Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Mereka sibuk mencangkul kompos dan memilah sampah serta rongsokan lainnya.

Pria gondrong asal Dusun Pandes itu sudah terlibat ikut mengolah sampah sejak enam tahun lalu. "Hasilnya lumayan, bisa untuk membantu dapur keluarga," ujar Wojos ketika Pikiran Rakyat dan rombongan Media Workshop PT Pegadaian mengunjungi bank sampah di daerah tersebut, Sabtu 27 Juli 2019.

Sebelum menjadi bank sampah, tanah kas Desa Panggungharjo kumuh dan menjadi tempat pembuangan sampah liar. Aksi mengurangi sampah dimulai pada 2012.

Kepala Desa Panggungharjo Wahyudi Anggoro Hadi dan warganya bergerak membersihkan sampah-sampah yang dibuang sembarang dan menggunung di tanah kas Desa Panggungharjo. Membalikkan keadaan ke arah yang baik ternyata tidaklah mudah. Tidak butuh lama, hanya berselang tiga minggu, sampah sudah menggunung lagi.

Data dari Kementerian Lingkungan Hidup mengungkapkan, setiap orang menghasilkan 0,7 kg sampah per hari. Secara keseluruhan, Indonesia harus berhadapan dengan masalah 65 juta ton sampah per tahun. Bahkan, Indonesia kini menjadi salah satu penyumbang sampah terbesar di dunia.

Di Panggungharjo, warga menghasilkan 55,37 meter kubik sampah perhari. Jadi, butuh enam truk untuk mengangkut sampah setiap harinya.

Upaya mengajak warga agar peduli terhadap sampah memang tak mudah. Sebab, ada anggapan bahwa pekerjaan yang berkaitan dengan sampah adalah pekerjaan rendah dan menjijikan.

"Padahal justru yang terjun ke bisnis sampah itu rata-rata makmur," ujar Wahyudi.

Halaman:

Editor: Yusuf Wijanarko

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X