Minggu, 15 Desember 2019

Manfaatkan Situasi Perang Dagang AS dan Tiongkok, Pemerintah Diminta Genjot Eskpor ke Dua Negara Tersebut

- 17 Juli 2019, 19:01 WIB
ILUSTRASI foto kelapa sawit.*/DISBUN.JABARPROV.GO.ID

JAKARTA, (PR).- Neraca perdagangan Indonesia periode Juni 2019 tercatat surplus sebesar USD 196 juta. Meski surplus, ekspor Indonesia juga harus terus digenjot dengan memanfaatkan perang dagang antara Amerika Serikat dengan Tiongkok. Sejumlah kalangan meminta Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita untuk menggeber peluang itu dengan melobi langsung pemerintah negeri tirai bambu itu.

Wakil ketua Komisi VI Inas Nasrullah Zubir mengatakan Indoensia harus meningkatkan ekspor produksi lantaran banyak yang berpontensi. Jadi, Indonesia jangan ekspor lagi barang mentah melainkan sudah siap pakai. Oleh karena itu, Inas menyarankan Mendag pergi ke Tiongkok untuk melakukan lobi dan mengetahui apa yang dibutuhkan di sana. Apalagi, kata dia, tenaga kerja di Tiongkok sangat mahal.

"Jadi apa yang bisa diproduksi bisa kita tawarkan. Ya saya kira kalau memang ada yang bisa dibicarakan, (itu) perlu ke Tiongkok. Nah saya kira apa yang bisa kita ekspor sama kita, kita izin kita ekspor ke sana," kata Inas kepada wartawan seperti dikutip dari Kantor Berita Antara, Rabu, 17 Juli 2019.

Kepergian Mendag ke Tiongkok nantinya juga diharapkan mendapatkan kabar positif. Sehingga kerja sama ekspor Indonesia ke Tiongkok terus meningkat untuk memperbaiki neraca perdagangan.

"Yang penting Mendag pulang bawa hasil. Tetapi juga harus ke sana juga untuk mencari tahu apa sih yang bisa diproduksi Indonesia diekspor ke Tiongkok terutama barang-barang industri barang-barang teknologi Indonesia cukup mumpuni," paparnya.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Pingkan Audrine Kosijungan di lain kesempatan menilai untuk tingkatkan ekspor pemerintah harus mencari produk yang mempunyai nilai tambah. Juga harus diperhatikan produknya memang produk olahan. "Sehingga harga jual ekspor lebih tinggi dibandingkan dengam produk mentah. Bisa manufaktur," katanya.

Tetapi itu bergantung dengan negara tujuan ekspor. Kalau bisa, lanjutnya, Kemendag bisa petakan kerja sama dengam Kemenlu.

Di kesempatan terpisah, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Yunita Rusanti mengatakan, surplus yang terjadi memang tidak begitu besar, atau tepatnya USD 196 juta pada bulan Juni. Yunita mengatakan, momen ini diduga juga akibat imbas perang dagang AS dengan Tiongkok. "Sebenarnya kita ada peluang lagi meningkatkan ekspor, bisa dilihat komoditas apa yang bisa dipasok ke Tiongkok dan juga Amerika," ujarnya.

Komoditas ekspor ke Tiongkok yang berpotensi cukup besar, kata dia, adalah batu bara, Crude Palm Oil (CPO), besi dan baja. Ia pun memprediksi ekspor CPO ke Tiongkok masih bisa digenjot lagi.***



Editor: Eva Fahas

Tags

Komentar

Terkini

X