Jumat, 5 Juni 2020

Harga Cabai Melonjak,  Jangan Abai Jaga Produksi

- 12 Juli 2019, 16:10 WIB
ILUSTRASI.*/ANTARA

JAKARTA, (PR).- Pengamat Ekonomi dari Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Rusli Abdullah mengatakan, secara umum harga cabai yang naik hingga hampir 100% di beberapa daerah disebabkan oleh kekeringan yang ekstrem. Hal ini mengakibatkan produksi dan suplai cabai menjadi terbatas.

“Itu karena supply-nya yang terbatas karena produksinya yang belum optimal,” kata Rusli Abdullah di Jakarta,  Jumat (12/7/2019). Seperti diketahui, harga cabai merah di sejumlah pasar tradisional terus melonjak.  Bahkan secara nasional, per Kamis 11 Juli 2019 menyentuh angka Rp 56.380 per kilogram (kg) rata-rata secara nasional.

Kenaikan harga cabai lebih signifikan terjadi di Jakarta, pada 11 Juli 2019 sudah menyentuh angka Rp 70.850 per kilogram.  Penyebab utama hal itu diduga tidak adanya pengaturan produksi penyuluhan untuk penciptaan bibit unggul  terkait penanaman cabai sehingga persoalan berulang karena gagal diantisipasi.

Kementerian kurang optimal

Rusli  menilai, Kementerian Pertanian kurang optimal dalam mendorong penciptaan varietas unggulan yang tahan terhadap perubahan iklim. Padahal, varietas itu dapat ditemukan dengan  misalnya dengan berinovasi pada cara tanam. Permasalahan ini tidak hanya terjadi pada cabai, tetapi juga tanaman-tanaman lain.  “Dia (Kementan.red) lebih kepada bagaimana memproduksi, tapi bagaimana adaptif terhadap perubahan iklim itu kurang optimal di situ,” ujarnya.

Sementara  dari sisi permintaan, Rusli mengatakan, pemerintah harus mulai perlu mendorong supaya masyarakat tidak bergantung lagi pada cabai segar. Hal ini bisa dilakukan dengan membiasakan mengonsumsi cabai bubuk atau sambal olahan. Jadi, produksi cabai yang melimpah pada musim panen dapat terserap menjadi produk yang tahan lama.  “Jadi pemerintah harus  mendorong masyarakat agar mereka lebih bisa adaptif terhadap cabai olahan,” ucapnya.

Pengamat pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Kudhori melihat naiknya harga komoditas cabai merah yang terjadi saat ini, salah satunya disebabkan oleh minimnya stok cabai yang tidak seimbang dengan permintaan.

Kurangnya ketersediaan cabai merah pun disinyalir disebabkan oleh jumlah produksi cabai dari petani yang kurang maksimal.

Salah satunya karena mengalami kekeringan lahan dan bahkan gagal panen karena kemarau. “Ya ini siklus tahunan. Dan tahun ini kan kalau dibandingkan tahun sebelumnya kekeringan lebih panjang, jadi di daerah-daerah yang selama ini menjadi basis produksi cabai itu ada gangguan,” jelas Kudhori.

Dia mengatakan, fenomena gagal panen atau rusaknya tanaman cabai saat terjadi kemarau panjang atau kekeringan yang berlebih merupakan hal wajar. Fenomena sama pun, Kudhori sebut juga terjadi pada tanaman hortikultura lainnya. 

Halaman:

Editor: ella yuniaperdani


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X