Selasa, 2 Juni 2020

Pelatihan Digital Inklusif untuk Tenaga Kerja Muda

- 4 Juli 2019, 20:09 WIB
DIRJEN Binalattas Bambang Satrio Lelono saat talk show membahas pengangguran usia muda yang besar.*/SATRIO WIDIANTO/PR

JAKARTA, (PR).- Tingkat pengangguran kaum muda usia 15-24 tahun di Indonesia saat ini tercatat sebesar 19,68 persen yang berarti lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat pengangguran nasional sebesar 5,13 persen (data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional 2018). Sementara itu, kebutuhan akan tenaga kerja terampil meningkat rata-rata 3,2 juta pekerja tiap tahun.

"Untuk mengatasi hal itu, salah satunya perlu  mengembangkan sistem pelatihan digital yang diharapkan dapat mendukung penyiapan tenaga siap kerja dan mengurangi angka pengangguran di kalangan kaum muda," kata Dirjen Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas Kementerian Ketenagakerjaan  Bambang Satrio Lelono di Jakarta, Kamis 4 Juli 2019.

Kementerian Ketenagakerjaan dan Plan International Indonesia menandatangani kesepakatan bersama untuk mengembangkan sistem pelatihan digital inklusif berbasis kompetensi untuk tenaga kerja muda. "Kerja sama ini memungkinkan dukungan sistem pembelajaran digital untuk program pelatihan berbasis kompetensi di balai latihan kerja (BLK), kami berharap dapat meningkatkan akses kaum muda pada pelatihan," kata Satrio.

Kemitraan untuk mengembangkan sistem pelatihan digital itu diharapkan dapat mendukung penyiapan tenaga siap kerja dan mengurangi angka pengangguran di kalangan kaum muda. "Tujuan kerja sama ini adalah untuk masifikasi pelatihan karena kebutuhan tenaga kerja terampil kita kan sangat banyak sementara kapasitas BLK itu terbatas. Oleh karena itu, kami cari terobosan baru bahwa pelatihan juga didukung sistem digitalisasi agar siapapun di mana pun juga bisa mengakses pelatihan vokasi," kata Satrio.

Kemitraan dengan Plan International Indonesia akan mendukung pengembangan pelatihan vokasi di balai latihan kerja melalui sistem digital sehingga dapat memberikan akses yang lebih luas bagi masyarakat untuk mengikuti pelatihan dari manapun dan kapan pun.

Menurut dia, kejuruan di BLK harus menyesuaikan kebutuhan pasar. “Dulu, ada kejuruan komputer menghasilan operator komputer, sekarangan dikembangkan animator, Youtuber, Web Developer, dan kejuruan lainnya yang dibutuhkan pasar kerja ini, akan selalu dikembangkan. Dulu ada operator mesin jahit, sekarang kami menciptakan designer di BLK semarang. Kami juga meningkatkan mutu dengan menggandeng industri, lembaga internasional dalam sertifikasi internasional untuk kejuruan, seperti kejuruan listrik dan pengelasan,” ungkap Satrio.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Plan Indonesia Dini Widiastuti mengatakan kerja sama yang diinisiasi melalui proyek Wired for Work dengan gerakan #KitaKerja itu merupakan bentuk komitmen dalam mendukung ketenagakerjaan kaum muda.

Proyek tersebut akan diimplementasikan di Jakarta, Semarang, dan Lombok. Targetnya, 10.000 kaum muda bisa mendapatkan pelatihan dan 3.000 di antaranya mendapatkan pekerjaan yang layak. "Implementasi proyek tersebut secara bertahap akan diperluas ke seluruh wilayah Indonesia," ujarnya.

Dini mengatakan, model pelatihan kerja kejurusan sesuai permintaan industri semacam itu akan meningkatkan keterampilan dan membuka peluang wirausaha bagi kaum muda.***

Halaman:

Editor: anef


Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X