Minggu, 15 Desember 2019

Pasar IoT Indonesia 2022 Diperkirakan Capai Rp 444 Triliun

- 3 Juli 2019, 21:21 WIB
DIRECTOR ICT Convergence Dept. of TTA Korea Dongho Kim, PhD (kiri) berjabat tangan dengan Manager IoT Platform Development MDD Telkom, Ibnu Alinursafa, saat menyerahkan sertifikat global IoT bagi Antares, di Korea, beberapa waktu lalu.*/ISTIMEWA

BANDUNG, (PR).-Kebutuhan internet of think (IoT) di Indonesia sangat besar, seiring dengan semakin berkembangnya industri digital di Indonesia. Pada 2022 pangsa pasar IoT di Indonesia diprediksi akan mencapai Rp 444 triliun, dengan lebih dari 400 juta perangkat sensor terpasang. 

Manager IoT Platform Developement PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk. (Telkom), Ibnu Alinursafa, mengatakan, besarnya potensi pasar tersebut membuat pemain asing berlomba-lomba menggarap pasar Indonesia. Namun, seperti halnya Kementerian Komunikasi dan Informasi, ia juga mengaku berharap, besarnya kue IoT bisa dinikmati penyedia IoT lokal.

"Telkom sendiri memiliki platform IoT, yaitu Antares. Platform ini sudah mengantongi sertifikasi global dari OneM2M pada 18 Juni lalu," katanya, di Bandung, Rabu, 3 Juli 2019.

Sertifikasi global tersebut diperoleh melalui unit Media & Digital Departement (MDD) Telkom. Penyerahan sertifikat tersebut dilakukan pada OneM2M Ceremony Award oleh Dongho KIM, Ph.D, selaku direktur ICT Convergence Departement mewakili TTA Korea. "OneM2M sendiri beranggotakan 8 badan standar teknologi informasi komunikasi dengan 200 anggota dari seluruh dunia," ujar Ibnu.

Saat ini, menurut dia, Antares diberikan secara gratis kepada usaha rintisan digital (startup), pengembang program (developer), hingga akademisi. Mereka dikenakan batasan transaksi harian 10.000 hits API. "Kenapa gratis? Industri digital Indonesia baru saja berkembang. Jika sudah dibebani dengan banyak biaya di awal, justru menyulitkan untuk maju secara keseluruhan," ujarnya.

Menurut dia, Antares/IOT application & tech platform as your reliable solutions adalah jawaban dari kebutuhan solusi platform horizontal IoT yang dapat menyesuaikan dengan arsitektur yang digunakan pengguna. Platform ini juga sudah memenuhi regulasi yang telah ditetapkan Kementerian Komunikasi Informatika terkait penyimpanan data di Indonesia

"Selama ini para pengembang menggunakan platform dari luar negeri, baik yang cuma-cuma maupun berbayar, seperti ThingSpeak dan Ubidots. Akan etapi, ini tak sesuai dengan PP No. 82 Kemenkominfo yang mensyaratkan data pengembang harus disimpan di dalam negeri," kata Ibnu. 

Ia mengaku, pihaknya tidak menutup diri pada startup dan developer luar untuk menggunakan Antares. Berdasarkan data registrasi yang ada, sejak dirilis, sudah ada pengembang dari beberapa negara, sperti Jerman, Taiwan, China, dan Malaysia, yang menggunakan Antares.

"Mereka yang mengambil gratis platform kami pun tak ada kewajiban menjual layanannya nanti kepada Telkom, bebas mengembangkan dan menjual sendiri. Akan tapi, sekira mau dijual atau dikolaborasikan dengan kami, bisa melalui program startup Indigo atau pun di luar Indigo," ujarnya. 


Halaman:

Editor: Eva Fahas

Tags

Komentar

Terkini

X