Rabu, 11 Desember 2019

Petani Majalengka Bingung, Cari Buruh untuk Panen Susah

- 5 Mei 2019, 22:56 WIB
ILUSTRASI panen padi.*/DOK. PR

MAJALENGKA,(PR).- Para petani di Majalengka mengeluhkan upah buruh tani yang semakin tinggi sementara harga jual gabah terus merosot, akibatnya banyak petani padi yang merugi. Meski begitu mereka tak bisa beralih profesi karena usia yang sudah tua serta tidak memiliki keahlian lain.

Menurut petani padi asal Desa Panyingkiran, Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka Taofik Hidayat serta Muamar, pada musim tanam kedua buruh tani baik laki-laki maupun perempuan minta kenaikan upah kerja. Untuk buruh perempuan baik yang menyiangi tanaman ataaupun tanam padi  yang semula hanya Rp 50.000 untk setengah hari, kini naik Rp 10.000 atau menjadi Rp 60.000 per setengah hari.

Sedangkan buruh laki-laki untuk mencangkul yang semula hanya Rp 80.000 per setengah hari kini naik menjadi Rp 100.000 per setengah hari. Sedangkan upah mentraktor yang semula hanya Rp 1.000.000 per hektare kini upah sebesar itu hanya untuk 500 bata atau setengah bau. Karena mereka minta upah dengan tarif Rp 2.000 per bata.

Belum lagi nanti pada saat panen pemilik sawah masih harus membagi hasil dengan pekerja panen dengan bagian seper enam. Atau 1 kg untuk pekerja panen dan 5 kg untuk pemilik sawah. Itupun jika mereka mau, karena terkadang buruh panen enggan ikut memanen jika kondisi pasi kurang baik. Alasannya capenya bekerja tidak sebanding dengan penghasilan atau gabah yang dipanen.

“Saya kaget ketika minggu kemarin akan menanam padi, sorenya para pekerja  minta upah dimuka dengan harga Rp 60.000 per setengah hari. Hingga saya minta istri saya untuk nanya kepada orang lain yang sudah tandur (tanam padi) kebenaran hal itu, dan ternyata benar. Kalau kita menolak menaikan upah tidak akan ada yang mau bekerja. Sekarang ini petani padi semakin terpuruk,” ungkap Taofik kepada wartawan Kabar Cirebon, Tati Purnawati.

Sekarang, lanjutnya, dengan adanya kenaikan upah ditambah harga pupuk dan obat-obatan yang juga mahal, petani padi semakin merugi. Apalagi jika harga gabah petani terus mereosot seperti sekarang ini.

Bahkan menurut Muamar dan Cica, buruh panen pun terkadang sulit diperoleh walaupun mereka sebetulnya akan mendapatkan bagian gabah dari hasil yang diperolehnya. Taofik dan Muamar dua kali ditolak buruh panen, mereka tidak bersedia memanen padinya.

“Jadi sekrang buruh panen itu kalau diajak memanen, sorenya mereka melihat dulu kondisi padi yang akan dipanen, kalau bulir padi terlihat kecil apalagi banyak yang hampa mereka datang ke rumah ngabolaykeun gawe (menyatakan ketidaksediaanya untuk memanen). Alesana jang naeun ukur cape na wae,  da gawe teh lain hayang cape tapi hayang untung cenah (Alasanya buat apa kalau hanya sekedar cape, karena bekerja itu bukan mencari cape tapi ingin untung),” kata Taofik.

Makanya menurut Muamar, sekarang banyak petani yang mencari buruh panen ke wilayah Indramayu, yang tidak banyak permintaan dan nilai upahnya masih relatif lebih b\rendah. Namun itu juga harus berebut dnegan yang lain.


Halaman:

Editor: anef

Tags

Komentar

Terkini

X