Minggu, 8 Desember 2019

Presiden Terpilih dari Pemilu 2019 Akan Hadapi Tantangan Ekonomi yang Berat

- 12 April 2019, 14:39 WIB
DERETAN permukiman penduduk dan gedung bertingkat yang terlihat dari kawasan Tanah Abang, Jakarta, Jumat, 8 Februari 2019 lalu. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,17 persen sepanjang 2018.*/ANTARA

JAKARTA, (PR).- Tantangan pembangunan ekonomi Indonesia akan semakin berat. Selain faktor internal, ada faktor eksternal seperti terjadinya pelambatan kinerja ekonomi kawasan. Sementara, Amerika dan China sibuk perang dagang, Eropa bermasalah dengan pasar keuangan, serta di Asia Tenggara terjadi pelemahan permintaan barang dan jasa.

Hal itu dikatakan pengamat ekonomi, Rosdiana Sijabat, dalam diskusi publik bertema “Visi Capres-Cawapres Menjawab Tantangan Ekonomi” di Cikini, Jakarta, Kamis 11 April 2019. Dikatakannya, perekonomian global akan menekan perekonomian Indonesia.

"Jadi, siapapun nanti yang terpilih, bagaimana meningkatkan aktivitas ekonomi dari sisi rumah tangga. Kondisi perekonomian global akan berdampak bagi Indonesia. Siapapun nanti yang terpilih akan menghadapi tantangan cukup berat," kata Rosdiana.

Saat ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2018 sekitar 5,2% sampai 5,3%. "Target pertumbuhan pemerintahan Jokowi cukup optimis, 7%, tapi semua pertumbuhan ekonomi global melambat. Amerika saja pertumbuhan ekonomi 2,9 %. Indonesia tidak terlalu buruk, tapi juga tidak terlalu baik. Singapura 3%, Vietnam dan Kamboja mampu mencapai 6%."

Menurut Rosdiana, pertumbuhan 5,2% adalah angka yang patut disyukuri untuk perekonomian yang sedang sepi. "Faktor eksternal tidak bisa 100% kita atur. Catatan untuk Jokowi ke depan adalah kalau sekarang secara kasat mata lebih banyak positif daripada negatif. Ada yang negatif tapi bukan di fundamental perekonomian," ujarnya menambahkan.

Sementara itu, Direktur Komunikasi Politik TKN Jokowi-Ma’ruf, Usman Kansong, mengatakan,  pertumbuhan ekonomi 5% kalau dibandingkan target lebih rendah, tapicukup baik bila melihat perekonomian global 5,2%. "Ekonomi itu kan membandingkan. Dibandingkan negara G20, kita di nomor 3 setelah Tiongkok dan India. Kenapa dibandingkan dengan G20, karena size ekonominya besar," ujarnya.

Dikatakannya, tren pertumbuhan ekonomi sejak pemerintahan SBY sudah turun. Tahun 2010, pertumbuhan ekonomi sekitar 6,38%, lalu tahun berikutnya turun 6,17%. Tahun 2012 pertumbuhan sekitar 6,03%, lalu tahun 2013 turun ke 5,58%. "Tahun 2014 Pak Jokowi dikasih angka pertumbuhan ekonomi 5,02%. Jadi, memang cenderung turun. Tapi setelah itu, ekonomi tumbuh terus, inflasi terjaga, daya beli seimbang."

Menurut Usman, program ekonomi yang ditawarkan adalah tata kelola pembangunan ekonomi sehingga menstabilkan daya beli. Salah satunya adalah Program Keluarga Harapan (PKH).


Halaman:

Editor: Vebertina Manihuruk

Tags

Komentar

Terkini

X