Minggu, 7 Juni 2020

Arisan, Menabung ala Pedagang

- 31 Juli 2018, 15:45 WIB
RELATIONSHIP Manager Bank BRI Muhammad Yagi memperlihatkan saldo salah seorang nasabah yang berprofesi sebagai pedagang, saat melakukan jemput uang nasabah atau

MAYORITAS masyarakat Indonesia sudah sangat familiar dengan arisan. Namun siapa sangka, aktivitas identik dengan kegiatan sekumpulan ibu-ibu tersebut ternyata dapat menjadi salah satu cara untuk mendorong literasi dan inklusi keuangan di masyarakat. Khususnya di kalangan pedagang pasar tradisional yang hingga kini masih dianggap sulit tersentuh layanan keuangan formal. Menariknya, jumlah nominal yang dapat dikumpulkan melalui aktivitas arisan pun terbilang fantastis sekitar Rp 20 juta per hari.

Reni (41), salah seorang pedagang di Pasar Kiara Condong, Kota Bandung yang juga berperan sebagai pengelola arisan menuturkan saat ini ada 3 kelompok arisan yang ia kelola. Setiap kelompok masing-masing beranggotakan 20 orang yang seluruhnya merupakan pedagang di pasar tradisional tersebut.

“Arisan ini sudah turun temurun. Uang yang dikumpulkan oleh masing-masing orang itu ibarat menabung tanpa disadari,” ujarnya saat ditemui bersama sang suami, Yana di Pasar Kiara Condong, Bandung, Senin 30 Juli 2018.

Dikisahkan pada mulanya arisan tersebut digelar dengan tujuan untuk mendisiplinkan para pedagang dari sisi keuangan. Alasannya, banyak dari para pedagang yang kesulitan mengatur keuangannya. Maka kemudian, dibuatlah kelompok arisan dengan harapan melalui arisan para pedagang dapat terbantu dalam mengelola keuangannya.

Apalagi selama ini ada yang keliru dari pemahaman masyarakat tentang menabung bahwa uang yang ditabungkan merupakan uang sisa dari pendapatan yang ada. Padahal, jika melihat konsep menabung secara utuh, hal tersebut bertolak belakang karena sesungguhnya uang yang ditabungkan merupakan uang yang telah disisihkan sejak awal dan bukan merupakan uang sisa.

Prinsip itulah yang kemudian diterapkan dalam arisan. Selain bersifat wajib bagi para pesertanya, nominal uang yang disetor pun nominalnya tetap. Dengan demikian mau tidak mau pedagang harus menyisihkan dananya sejak awal. Artinya jika hari ini tidak setor maka besaran setoran pada keesokan harinya merupakan hasil dari kelipatan.

“Jadi harus disiplin, setiap hari harus mengumpulkan uang sesuai besaran yang disepakati,” katanya. 

Reni mengaku sejak awal, bahkan hingga saat ini tidaklah mudah dalam menjaga kedisiplinan tersebut. Pasalnya, masih sering ditemui adanya anggota yang lupa untuk menyetorkan uangnya. Sehingga, ia sebagai pengelola harus rajin melakukan jemput bola ke peserta arisan. Pengambilan setoran dilakukan setiap pukul 10.00.

Sejak 1,5 dekade yang lalu ketika arisan pada pedagang tersebut dimulai, Yana mengatakan, sudah banyak catatan positif yang dihasilkan melalui aktivitas ini, selain tentunya para peserta jadi terbiasa menabung. Ia mencontohkan, dari mengikuti arisan ada pedagang yang mendapatkan modal usaha, ada yang bisa membeli rumah ataupun tanah dari uang arisan. Kemudian, ada pula yang digunakan untuk membayar biaya perkuliahan anak atau perawatan rumah sakit.

Halaman:

Editor: Yulistyne Kasumaningrum


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X