Sabtu, 18 Januari 2020

Polemik Perpres TKA, Antara Dorong Investasi dan 157.000 Buruh Kasar Asing

- 2 Mei 2018, 02:58 WIB
RATUSAN massa buruh melakukan aksi unjuk rasa di depan Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Selasa 1 Mei 2018. Dalam aksi yang digelar dalam memperingati hari buruh tersebut mereka menyuarakan penolakan upah murah dan mengkritisi banyaknya tenaga kerja asing di Tanah Air.*

BANDUNG, (PR).- Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jabar Deddy Widjaja menilai, Peraturan Presiden (Perpres) no. 20 tahun 2018 tentang Tenaga Kerja Asing (TKA) tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Menurut dia, justru Prepres 20 tahun 2018 akan mendorong iklim usaha dan investasi dari luar negeri ke Indonesia.

"Perpres ini hanya ingin mempermudah prosedur, bukan mempermudah persyaratannya," kata Deddy, kepada ”PR” di Bandung, Selasa 1 Mei 2018.

Lagi pula, menurut dia, dalam dunia investasi, investor asing dari negara mana pun biasanya akan membawa beberapa tenaga profesional untuk pengembangan usahanya. Biasanya mereka ditempatkan pada posisi tertentu, di level strategis.

"Kehadiran TKA juga bisa menjadi salah satu jalan untuk transfer skill bagi tenaga kerja lokal. Kan ada aturan bahwa TKA harus didamping oleh beberapa tenaga kerja lokal," katanya.

Kehadiran TKA, menurut dia, juga merupakan konsekuensi dari kesepakatan ASEAN Economy Community (AEC) tentang ketenagakerjaan. AEC memungkinkan Indonesia untuk mengirimkan tenaga kerja ke negara lain di ASEAN dan sebaliknya.

Khitanan massal

Sementara itu, untuk memperingati Mayday, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jabar menggelar khitanan massal di Kantor Disnakertrans. Pada kesempatan tersebut juga digelar bazar murah makanan/minuman, pengecekan kesehatan, dan panggung hiburan.

Kepala Disnakertrans Jabar, Ferry Sofwan, mengatakan, kegiatan tersebut diharapkan menjadi semakin meningkatkan harmonisasi hubungan antara buruh, pelaku usaha, dan pemerintah. Dengan demikian, bisa mengakselerasi pencapaian target peningkatan kesejahteraan buruh.

"Kegiatan ini juga diproyeksikan untuk mengubah image May Day agar tidak identik dengan hari demontrasi. May Day harus dimaknai menjadi hari untuk menyatukan barisan guna meningkatkan kesejahteraan buruh," tuturnya. 

Buruh kasar asing

Buruh kasar asing yang bekerja di Indonesia saat ini mencapai 157.000 pekerja. Sebagian buruh tersebut berasal dari Tiongkok.

Halaman:

Editor: Ai Rika Rachmawati

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Jawa Barat Network

X