Rabu, 19 Februari 2020

Tren Belanja Online Perlu Diimbangi Kesiapan Logistik

- 3 September 2017, 11:22 WIB

BANDUNG, (PR).-Bergesernya perilaku belanja masyarakat dari konvensional ke daring (online) dinilai semakin meningkat. Tren tersebut, akhirnya berimbas pula terhadap industri logistik yang dinilai harus siap mengantisipasi dan memfasilitasi kebutuhan pasar.

Ketua Umum Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Yukki Nugrahawan Hanafi menjelaskan, perkembangan e-commerce diimbangi oleh layanan logistik, di mana perencanaan, pengiriman, dan monitoring terintegrasi. Dari perspektif logistik, banyak pengusaha di Indonesia yang sudah siap dengan pergeseran perilaku konsumen.

Menurut dia, dengan perubahan pola distribusi yang terjadi, bukan hanya perspektif peralatan yang mengalami perubahan, tapi pola perdagangan pun ikut berubah. Sayangnya, pemerintah Indonesia belum siap mengantisipasi perubahan tersebut dan tertinggal dari sisi aturan.

"Yang justru belum siap dan belum disempurnakan adalah sisi aturan yang dimiliki pemerintah. Jangankan di Indonesia, di dunia juga begitu banyak terjadi perubahan pola perdagangan berkaitan isu cross border dan ekspor maupun impor. PR pemerintah yang lebih banyak," ujar Yukki, Minggu 3 September 2017.

Ketika perusahaan raksasa Alibaba asal Cina mengakuisisi Lazada, selain melakukan ekspansi usaha e-commerce-nya di dalam negeri, mereka juga memperkuat investasinya di bidang logistik.

Menurut Yukki, sebenarnya dari sisi logistik tak perlu dikhawatirkan lantaran ada aturan yang mewajibkan mereka bekerja sama dengan pelaku logistik di Indonesia. Bahkan, sudah ada beberapa gudang yang fokus untuk fullfilment center, yaitu gudang khusus untuk melayani kegiatan e-commerce, baik nasional maupun internasional.

"Dari sisi logistik tidak masalah, tapi yang kasihan pelaku UMKM. Marketplace kita, apa mereka siap? Pemerintah pun harus memproteksi dong," tuturnya.

Pelaku UMKM harus efisien agar berdaya saing

Ia menekankan, UMKM yang bergerak di marketplace harus bisa melakukan ekspor lebih efisien dan efektif sehingga barangnya lebih berdaya saing. Pelaku pengadaan barang harus ikut membantu memikirkan bagaimana hal itu terjadi, agar Indonesia tidak hanya menjadi tujuan pengiriman barang.

Yukki menyebutkan, baru beberapa UMKM dari Bandung dan Jambi yang melakukan efisiensi pengiriman dan jumlahnya bertambah, meskipun tidak masif. Hal itu dikarenakan, diperlukan perlu peran pemerintah, yaitu Kementerian Koperasi dan UMKM dan Kementerian perdagangan dalam prosesnya.

"Sebaiknya, Kementerian UMKM mengundang pelaku UMKM yang produknya berkualitas ekspor dan punya jenis komoditas yang cukup luas di luar. Ayo kita duduk bareng  dan saya sebagai Ketua ALFI siap mengedukasi cara packaging yang baik, bagaimana ekspor yang efisien dan efektif," kata Yukki.

Dalam waktu dekat, ia terus mendorong terciptanya sebuah sistem yang segala sesuatunya online, baik di ke pelabuhan maupun bandara dengan mekanisme yang terarah. Ia pun mengaku, telah berkomunikasi dengan
Kementerian Perhubungan yang memiliki kebijakan.***


Editor: Asep Budiman

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X