Senin, 17 Februari 2020

Pengusaha Keberatan Perbaikan Jembatan Cisadane dengan Sistem Buka Tutup

- 10 Agustus 2017, 13:30 WIB

BANDUNG, (PR).- Industri dan pengusaha angkutan logistik khawatir ritase distribusi barang akan hilang sekitar 50-60% jika rencana perbaikan jembatan Cisadane yang menghubungkan Bogor dan Sukabumi dengan sistem buka tutup. Risiko kerugian yang akan diderita oleh industri dan pengusaha angkutan logistik mencapai miliaran rupiah per hari.

Sekretaris DPD Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Jawa Barat R. Budi Setiawan mengatakan, dari informasi yang diperoleh, perbaikan jembatan Cisadane tetap dengan sistem buka tutup yang nanti akan dibantu oleh Ditlantas Polda Jabar dan Polres Sukabumi. Dengan sistem buka tutup tentunya jumlah kiriman logistik akan berkurang 50%.

"Dengan demikian ritase untuk truk angkutan barang juga akan turun 50%. Lama perbaikan dilakukan dari bulan Agustus-Desember 2017," ucap Budi, Kamis, 10 Agustus 2017.

Dalam waktu lima bulan perbaikan itu, ungkap Budi, pada waktu tersebut juga terdapat libur panjang, khususnya Natal dan Tahun Baru. Jumlah ritase truk angkutan barang untuk mengangkut air minum dalam kemasan bisa lebih dari 100 rit dan tentunya menjadi dua kali jumlah truk angkutan barang yang melewati jembatan tersebut.

"Belum lagi dari angkutan semen dan lainnya," ujar Budi.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Air Kemasan Indonesia (Aspadin) Rachmat Hidayat yang mengikuti pertemuan dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, baru-baru ini, membenarkan perbaikan jembatan lebih diarahkan ke sistem buka tutup. Akan tetapi, Aspadi beserta industri lain yang beroperasi di sekitar jalur dan yang memanfaatkan jembatan tersebut sangat keberatan dengan sistem buka tutup.

Dia memandang, sistem buka tutup di jalur padat lalu lintas logistik itu akan memangkas kapasitas distribusi, khususnya perusahaan air minum dalam kemasan. Berdasarkan perhitungannya,  total armada industri air minum dalam kemasan sekitar 800 truk untuk barang jadi dan 200 lebih truk untuk bahan baku dan penolong satu jalur per hari.

"Jadi kalau bolak balik ada sekitar 2000 truk per hari," tuturnya.

Apabila dibuat sistem buka tutup, dia memperkirakan, akan menurunkan kapasitas distribusi hingga 60%. Dia berasumsi jalur menjadi separuh, ditambah lagi penurunan kecepatan lalu lintas akibat buka tutup.

Halaman:

Editor: Asep Budiman

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X