Rabu, 26 Februari 2020

Baterai Ion Lithium Sekarang Bisa Diproduksi di Indonesia

- 2 Agustus 2017, 12:42 WIB
KEPALA Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian, Ngakan Timur Antara (kanan), bersama peneliti dari Balai Besar Bahan dan Barang Teknik (B4T) menunjukkan batere ion lithium yang sudah dalam bentuk powerbank.*

BANDUNG, (PR).- Kementerian Perindustrian melalui Balai Besar Bahan dan Barang Teknik (B4T) berhasil mengembangkan prototipe produk baterai ion lithium. Prototipe itu diberi nama "SuperB4Ttery". Produk itu sekaligus bukti bahwa Indonesia telah menguasai teknologi pembuatan baterai ion lithium. Indonesia bahkan siap mendorong hadirnya industri hulu baterai ion lithium di tanah air.

Prototype baterai yang dihasilkan telah diaplikasikan sebagai bentuk powerbank dan powerhouse. Powerhouse dapat dijadikan sebagai cadangan penyimpanan listrik pada perumahan. Saat ini pada powerhouse, baterai dapat digunakan untuk menghidupkan lampu LED selama satu pekan dan mampu mengoperasikan perangkat elektronik dengan daya 220 VA. Adapun pengisian ulang dapat menggunakan solar cell dan sedang dipersiapkan dalam konsep modular.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian, Ngakan Timur Antara, menjelaskan baterai yang mereka kembangkan. Menurut dia, kali ini permintaan peralatan elektronik portabel yang menggunakan baterai ion lithium sangat tinggi. Sayangnya, tingginya permintaan itu belum mampu disediakan industri dalam negeri sehingga hanya dapat dipenuhi melalui impor.

Baterai ion lithium impor

Menurut Pusat Data dan Industri Kemenperin yang diolah dari Badan Pusat Statistik (BPS), impor baterai ion sepanjang 2016 untuk laptop mencapai 6 juta dolar AS. Sementara untuk kebutuhan perangkat elektronik portabel lainnya, seperti laptop, powerbank, dan kamera digital mencapai 85 juta dolar AS.

Sedangkan pada periode Januari-Mei 2017 nilai impor baterai lithium untuk kebutuhan laptop sebesar 721.000 dolar AS dan 47 juta dolar AS untuk perangkat elektronik portabel lainnya. Adapun negara asal masih didominasi Tiongkok sebesar 79 persen, Vietnam (13 persen), dan Korea (4 persen).

"Pengembangan energi ke depan sangat penting. Pemerintah telah menetapkan industri pembangkit energi, seperti motor atau generator listrik, baterai listrik, dan PV solar cell sebagai salah satu prioritas dalam Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional 2015-2035," kata Ngakan. Ia ditemui di sela-sela Seminar Industri Nasional "Peluang dan Tantangan Industri Pembangkit Energi Nasional baterai Listrik” di Bandung, Rabu 2 Agustus 2017.

Kepala B4T Budi Susanto mengatakan saat ini mereka tengah menjajaki komunikasi dengan dua perusahaan untuk mendorong pengembangan industri baterai tersebut. Meski belum mengungkapkan secara gamblang, diharapkan keberhasilan riset yang dicapai mampu dilanjutkan ke level industri untuk pengembangan perekonomian tanah air.***


Editor: Yulistyne Kasumaningrum

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X