China Harus Beli Saham BUMN Untuk Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung, Alasan di Baliknya Terungkap

- 9 Oktober 2021, 20:46 WIB
Mantan Sekretaris Kementerian (Sesmen) BUMN periode, Said Didu.
Mantan Sekretaris Kementerian (Sesmen) BUMN periode, Said Didu. /Twitter.com/@msaid_didu

PIKIRAN RAKYAT - Mantan sekretaris Kementerian BUMN, Muhammad Said Didu mengungkapkan jika China harus membeli saham yang dimiliki konsorsium Indonesia dalam proyek pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung.

Saham proyek pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung dimiliki oleh konsorium Indonesia dan China masing-masing dengan persentase 60:40.

Sebanyak 60 persen saham di konsorsium Indonesia dimiliki oleh PT KAI, Jasa Marga, PTPN VII, dan Wijaya Karya.

Sementara itu, 40 persen lainnya dimiliki oleh konsorsium China.

Baca Juga: Kini Terlihat Kurus dan Sempat Diisukan Meninggal, Eko Patrio: Saya Takut Punya Penyakit Banyak

Menurut Said Didu, Indonesia akan merugi jika memiliki saham yang lebih besar dibandingkan China.

Oleh karena itu, Said Didu berujar jika China harus membeli saham yang dimiliki Indonesia.

"Jika dilanjutkan, sebanyak 60 persen kerugian BUMN akibat proyek kereta cepat Jakarta-Bandung akan ditanggung Indonesia. Namun, kalau diubah mau 90 persen dibeli China, meskipun rugi, Indonesia hanya menanggung 10 persen kerugiannya," kata Said Didu dikutip Pikiran-Rakyat.com dari YouTube MSD.

Menurut Said Didu, kalau pun proyek tersebut gagal, Indonesia tidak akan menanggung kerugian yang sangat besar jika sahamnya dibeli oleh China.

Baca Juga: Sorot Siasat 'Licik' China ke Indonesia, Satu Proyek Gagal Minta Kompensasi

Dalam hal tersebut, Said Didu menyebutkan ada tiga hasil jika dilakukan negosiasi dengan China.

"Hasil yang pertama China tidak mau membeli saham dan tetap 40 persen, yang kedua, China mau tetapi tidak memberikan dalam bentuk uang, hanya menaikkan saham dan menanggung kerugian yang ada di depan nanti. Sementara itu, yang ketiga China tidak mau," ujar Said Didu.

Jika saham sebagian besar diberikan ke China, disebutkan Said Didu, Indonesia menang dalam proses negosiasi tersebut.

"Masalah lain, kalau dia mau karena ini dijamin oleh pemerintah, China dibangkrutkan. Jika China bangkrut, Indonesia akan menang. Anggaplah diambil China, kemungkinan besar jika China bangkrut, dia akan meminta pemerintah untuk mengganti uangnya atau infrastruktur lain," tuturnya.***

Editor: Christina Kasih Nugrahaeni

Sumber: YouTube MSD


Tags

Artikel Pilihan

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X