Rabu, 3 Juni 2020

Harga Cabai Merah dan Bawang Picu Inflasi

- 30 November 2016, 04:36 WIB
PEDAGANG menunggu calon pembeli cabai tanjung di salah satu jongko di Pasar Cibeureum, Ciwidey, Kabupaten Bandung, Rabu, 9 November 2016. Harga cabai tanjung melonjak drastis mencapai Rp 90.000 per kg akibat kurangnya pasokan pada musim hujan. Kenaikan harga memicu turunnya daya beli masyarakat. Biasanya pedagang menyediakan sepuluh kilogram per hari menjadi dua kilogram yang habis terjual dalam dua hari.*

JAKARTA, (PR).- Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan inflasi pada November dan Desember 2016 kemungkinan akan lebih tinggi dari bulan-bulan sebelumnya. Inflasi tersebut dipengaruhi oleh harga pangan yang tinggi akibat musim hujan. ”Inflasi bulan kemarin memang dari administratif rendah, begitu juga pangan. Meskipun demikian, bukan berarti tidak ada inflasi,” ujarnya saat ditemui di Kementrian Perindustrian, Jakarta, Selasa, 29 November 2016. Meskipun demikian, inflasi di akhir tahun kemungkinan akan kembali tinggi. Hal itu dipengaruhi oleh kenaikan harga pangan seperti cabai dan bawang. Musim hujan yang tinggi menyebabkan cabai dan bawang menjadi gampang rusak atau busuk, sehingga pasokan berkurang dan harga naik. ”Saya gak mau bilang berapa angkanya, tapi akan lebih tinggi karena pangan sangat erat kaitannya dengan hujan. Sekarang musim hujan banyak, padi cocok tapi cabai, bawang, dan mungkin juga jagung akan lebih cepat rusak,” ujarnya. Menurut dia, pemerintah terus melakukan pemantauan terhadap inflasi terutama yang disebabkan oleh pangan. Dalam jangka menengah, pemerintah juga telah menyiapkan kebijakan di bidang pangan yaitu mengenai pembiayaan dan penyediaan alat serta mesin pertanian. ”Kami kemarin sudah melakukan rapat koordinasi mengenai langkah tersebut. Sekarang akan dibahas di rapat kabinet,” ujarnya. Hal itu senada dengan Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo yang memprediksi bahwa inflasi di bulan November dipengaruhi oleh kenaikan harga bawang dan cabai merah. ”Inflasi dipengaruhi pangan. Saya melihat pada kenaikan harga cabai dan bawang merah,” ujarnya. Meskipun demikian, dirinya optimistis jika inflasi 2016 tetap terkendali. Pada akhir tahun, inflasi diperkirakan mencapai 3%-3,2%. Angka tersebut berada di kisaran sasaran inflasi 2016 yaitu 4% plus minus 1%. ”Ke depan, Pemerintah akan terus melakukan koordinasi kebijakan dengan Bank Indonesia untuk mengendalikan inflasi. Kami fokus pada upaya menjamin pasokan dan distribusi kebutuhan bahan pokok,” ujarnya. Ketua Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia Jawa Barat, Asep Halim membenarkan bahwa kondisi produksi cabai memang sedang mudah busuk. Para petani cabai pada sentra produksi Jawa Barat di Priangan sedang meningkatkan penyemprotan tanaman, tetapi kini beralih menggunakan pestisida nabati yang dibuat sendiri karena produk pabrikan semakin mahal. Karena kondisi sekarang, katanya, penurunan produksi cabai, bisa mencapai 30%-50%. Walaupun demikian, program yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan produksi cabai, termasuk yang dilakukan Pemkab Ciamis mampu membantu penyediaan pasokan mandiri untuk skala rumah tangga. Sementara itu, upaya pemenuhan asal daerah sendiri untuk komoditas bawang merah, terus dilakukan Kelompok Tani Tricipta, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Fenomena ini muncul, karena produksi bawang merah sudah ada varietas yang dapat tumbuh dan berproduksi baik pada lokasi ketinggian, sehingga produksi bawang merah tak lagi mengandalkan pasokan dari dataran rendah. Pengurus Kelompok Tani Tricipta, Ujang Margana mengatakan, dari kawasan Cimenyan, khususnya dari Kelompok Tani Tricipta, berharap mampu menjadi andalan utama pasokan bawang merah bagi Jawa Barat, terutama bagi pasar Bandung. Bahkan, Pemprov Jawa Barat dan Pemkab Bandung pun kontinyu melakukan pembinaan, untuk mendongkrak produksi dan kualitas bawang merah asal Cimenyan. Disebutkan pula, di antara upaya yang dilakukan Kelompok Tani Tricipta adalah siap mempertahankan dan menjaga lahan abadi untuk tidak beralih fungsi. Hal ini terutama pada luas hamparan Kelompok Tani Tricipta, yang juga di antaranya menjadi andalan untuk produksi bawang merah sebagai salah satu upaya stabilisasi pasokan dan harga di Jawa Barat. (Kodar Solihat)***

Editor: Tia Dwitiani Komalasari


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X