Di tengah Perlambatan, Indonesia Masih Miliki Potensi Terus Melaju

- 18 Mei 2016, 01:36 WIB

JAKARTA, (PR).- Pertumbuhan ekonomi Asia Pasifik tahun 2015 kembali melambat. Hal ini tentu mempengaruhi para pelaku bisnis maupun konsumen. Indonesia, bersama dengan negara-negara lain, juga terkena imbas dari keadaan ini. Dibandingkan dengan tahun 2014 yang tumbuh 14.7%, Fast Moving Consumer Goods (FMCG) pada tahun 2015, bertumbuh sebesar 0.7%. Kondisi tersebut menyebabkan konsumen Indonesia untuk menyiasati strategi belanja kebutuhan mereka, seperti mengurangi frekuensi belanja dan lebih mengutamakan produk-produk FMCG primer, seperti sabun cuci piring, deterjen, dan larutan pembersih lantai. Lim Soon Lee, General Manager Kantar Worldpanel Indonesia mengungkapkan, Indonesia masih memiliki potensi yang sangat besar untuk terus melaju, mengingat jumlah populasi penduduknya yang besar, (peringkat ke-4 terbesar di dunia). Pada tahun 2015, populasi penduduk Indonesia mencapai 255,5 juta jiwa dengan jumlah rumah tangga mencapai 65,1 juta. Dari jumlah yang besar tersebut, 68% berada pada usia produktif (15-64 tahun). Jumlah penduduk Indonesia kelas menengah dan ke atas pun diperkirakan akan terus meningkat hingga mencapai 141 juta jiwa pada tahun 2020. Disamping itu, banyak hal yang mendukung Indonesia sebagai negara berpotensi besar, seperti tergabungnya Indonesia di dalam anggota G-20 (20 negara yang memiliki Produk Domestik Bruto (PDB) terbesar di dunia), dan usaha pemerintah Indonesia terhadap pembenahan infrastruktur yang tidak terpusat di Pulau Jawa saja, namun justru dimulai dari daerah-daerah diluar Jawa demi mengejar kesetaraan kemajuan ekonomi di seluruh Indonesia. Fanny Murhayati, New Business Development Director Kantar Worldpanel Indonesia memaparkan bahwa terdapat setidaknya empat tren “kunci” untuk membaca masa depan pasar FMCG di Indonesia, yaitu mengikuti Perkembangan Saluran Distribusi Penjualan Secara garis besar, setidaknya terdapat dua saluran penjualan untuk produk FMCG, yaitu saluran tradisional dan modern. Pola konsumen dalam membeli FMCG di kedua tempat tersebut berbeda-beda. - Saluran penjualan tradisional: yang memang masih mendominasi, dikarenakan kondisi geografis dan perkembangan infrastruktur Indonesia saat ini. Dengan mudah kita dapat menemukan warung, pasar tradisional, atau pedagang kaki lima di sekitar kita. Maka tidak mengherankan, saat inisaluran penjualan tradisional berkontribusi hingga 80% dari total nilai FMCG. Di saluran penjualan tradisional, konsumen lebih memilih untuk membeli produk FMCG berukuran lebih kecil dan dengan harga lebih murah, seperti contohnya kemasan sachet.***

Editor: Satrio Widianto


Tags

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X