Pertumbuhan Utang Lebih Tinggi, DPR Ingatkan Ancaman Resesi Kedua pada 2022

- 30 Agustus 2021, 09:37 WIB
Ilustrasi resesi.
Ilustrasi resesi. /Pixabay/geralt

PIKIRAN RAKYAT - Kondisi pandemi Covid-19 hingga saat ini sangat berdampak terhadap sektor ekonomi, Indonesia pun tak bisa terhindar dari ancaman resesi.

Meski ekonomi Indonesia sempat merosot, akan tetapi sebelumnya berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), yang menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional pada Triwulan II APBN 2021 tahunan, mencapai 7.07 persen (yoy). Sedangkan secara quarter to quarter (q-to-q) tumbuhnya 3.31 persen.

Artinya hal ini menjadi kabar baik, bahwasanya pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu melesat hingga 7.07 persen.

Kendati begitu, anggota Komisi XI DPR RI Achmad Hafisz Tohir mengemukakan, resesi kedua kalinya mengancam Indonesia pada 2022 setelah utang Indonesia melejit mencapai Rp8.124 triliun atau setara 45,39 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Baca Juga: KPK Akan Ganti Istilah Koruptor Jadi 'Penyintas Korupsi', Novel Baswedan: Terlalu Halus

Dia juga menyebut, apabila sudah melebihi 45 persen biasanya akan sulit kembali ke angka 30 persen, batas psikologis yang diterapkan Menteri Keuangan.

“Besar kemungkinan pada 2022, kita akan mengalami resesi lagi karena ruang fiskal makin menyempit,” kata Hafisz dalam siaran persnya kepada Parlementaria, Sabtu.  

Kemudian, pada tahun 2023 nanti, pemerintah tidak bisa lagi menggunakan fasilitas defisit 6 persen, karena undang-undang mengatur bahwa 2023 defisit harus terkendali dan kembali ke 30 persen dari PDB.

Baca Juga: Korupsi Sejak Hari Pertama, Ashraf Ghani Disebut Punya Peran Besar Atas Aksi Taliban yang Makin Kuat

Lebih lanjut, dia menjelaskan pada 2023, anggaran kian ketat. Pemerintah harus mampu membangkitkan ekonomi nasional pada 2021 dan 2022.

Halaman:

Editor: Gita Pratiwi

Sumber: dpr.go.id


Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X