Minggu, 7 Juni 2020

Kesejahteraan Petani Sering Terlupakan

- 7 Desember 2015, 09:08 WIB
KETUA Harian Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) Agung Sudjatmoko menyerahkan plakat kepada Dekan Fakultas Pertanian Unpad Dr. Ir. H. Sudarjat, M.P di sela-sela simposium Kedaulatan Pangan Berbasis Koperasi di Hotel Grand Serella Kota Bandung, Senin (7/12/2015).*

BANDUNG, (PRLM).- Kedaulatan pangan di Indonesia baru bisa diwujudkan jika semua pihak memperlakukan petani tidak hanya sebagai produsen, tetapi juga sebagai konsumen. Selama petani diharapkan untuk meningkatkan produksi, sedangkan kesejahteraan dan daya beli mereka sering terlupakan. Pakar Pertanian Universitas Padjadjaran (Unpad), Maman Khaeruman Karmana mengatakan, pemerintah memang sudah semakin memperhatikan petani sebagai produsen. "Berbagai bantuan sarana produksi diberikan. Namun petani sebagai konsumen masih belum banyak diperhatikan," katanya di sela-sela simposium Kedaulatan Pangan Berbasis Koperasi di Hotel Grand Serella Kota Bandung, Senin (7/12/2015). Maman mencontohkan petani padi, mereka jangan hanya dilihat sebagai penghasil gabah saja. Soalnya mereka di sisi lain tetap menjadi konsumen beras untuk kebutuhan makan setiap hari. Selama ini, ujar Maman, petani kecil seringkali tidak bisa membeli beras karena harganya cukup tinggi di pasaran. Padahal merekalah yang sebenarnya menjadi produsen hulu beras tersebut. Maman menjelaskan, petani seringkali menjadi objek penderita karena posisi tawar yang tidak terlalu kuat di pasar. Dengan keterbatasan lahan dan jumlah hasil panen yang kecil, mereka tak memiliki pilihan selain menjual hasil panen ke tengkulak yang tak jarang menekan harga demi keuntungan mereka sendiri. Kondisi itu membuat pendapatan petani tak kunjung membaik dari waktu ke waktu. Sementara pengeluaran mereka untuk kebutuhan hidup terus meningkat. "Bukan hanya untuk beli beras, untuk membeli kebutuhan lain pun harganya semakin tinggi," kata Maman. Menurut Maman, hal itu ditunjukan dengan nilai tukar petani (NTP) yang sebagian besar indeksnya selalu di bawah 1 poin sejak 2002. Meskipun ada petani yang pendapatannya lebih tinggi dibandingkan pengeluaran, sebagian besar petani Indonesia tetap besar pasak daripada tiang. Maman menambahkan, peran koperasi sebenarnya sangat krusial dalam memperbaiki nasib petani dan mempertahankan kedaulatan pangan. "Koperasi bisa berperan sebagai pemasok kebutuhan produksi bagi petani seperti pupuk, obat-obatan dan lain-lain, dengan harga minimal. Di sisi lain koperasi juga bisa menampung dan membantu petani menjual hasil panen mereka dengan harga yang lebih menguntungkan," ujarnya. Hal senada diungkapkan Ketua Harian Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) Agung Sudjatmoko. Ia mengatakan, koperasi bisa menjadi wadah bagi petani kecil untuk bergabung menjadi sebuah kekuatan ekonomi baru. Syaratnya, kata Agung, anggota koperasi tersebut merupakan petani dan modalnya cukup kuat untuk bisa menjadi penyangga harga kebutuhan petani dan membeli hasil panen petani. Dengan begitu petani yang tergabung dalam koperasi tidak bisa lagi dipermainkan oleh pelaku usaha lain. Seperti Maman, Agung juga mengakui bahwa tengkulak sebenarnya tidak memiliki kekuatan besar. Mereka hanya mampu membeli gabah dari petani kecil dalam jumlah yang tidak terlalu besar. Kesempatan itu sama sekali tertutup bagi tengkulak, bila ada koperasi yang bisa menampung dan menyatukan hasil panen petani kecil. Meskipun demikian, Agung mengakui saat ini koperasi masih membutuhkan revitalisasi untuk bisa berperan dalam berbagai lini perekonomian, termasuk ketahanan pangan. "Di Indonesia ada sekitar 209.000 koperasi, namun hanya 146.000 yang aktif," katanya. Hal serupa juga terjadi di Koperasi Unit Desa (KUD) yang dulu sempat menjadi tulang punggung perekonomian petani. Agung berharap, revitalisasi yang saat ini dilakukan pemerintah juga dibarengi dengan penguatan kembali koperasi pertanian. " "Tidak hanya KUD, koperasi pertanian dalam bentuk lain juga bisa membantu petani jika dikelola dengan benar. Koperasi itu bisa menjaga stabilitas harga bibit dan sarana produksi yang dibutuhkan petani dan menjualkan hasil panen petani dengan harga ideal," tutur Agung. (Handri Handriansyah/A-147)***

Editor: Handri Handriansyah


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X