Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Sebagian cerah, 30.2 ° C

Menanti Pasar Pembiayaan yang Semakin Kompetitif

Yulistyne Kasumaningrum
PERESMIAN Galeri Investasi di salah satu emiten Jabar/YULISTYNE KASUMANINGRUM/PR
PERESMIAN Galeri Investasi di salah satu emiten Jabar/YULISTYNE KASUMANINGRUM/PR

BANDUNG, (PR).- Pasar pembiayaan Indoensia diprediksi akan semakin kompetitif. Perkembangan itu menyusul meningkatnya minat dunia usaha melantai di pasar modal demi mendapatkan pembiayaan untuk mengembangkan usahanya.

Peningkatan minat itu bisa dilihat dari jumlah perusahaan, termasuk di Jabar yang go public. Tercatat, sepanjang 2019 hingga Oktober, sudah ada enam perusahaan di Jabar yang melantai di bursa dari target lima perusahaan.

Jumlah itu masih berpeluang bertambah karena cukup banyak usaha kecil menengah di Jabar yang tengah dalam proses menuju IPO (Initial public offering).

Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jabar Tatan Pria Sudjana mengatakan, pasar modal sebagai sumber pembiayaan sebetulnya bukan perkara baru bagi pelaku usaha.

WORKSHOP Go Publik bersama Kadin Jabar/YULISTYNE KASUMANINGRUM/PR

PUBLIC expose dan edukasi pasar modal/YULISTYNE KASUMANINGRUM/PR

Hanya, pemahaman pengusaha mengenai pasar modal belum komprehensif. Ditambah lagi, pengusaha terbiasa mengandalkan pembiayaan dari perbankan makanya tak mengherankan jika jumlah perusahaan di Jabar yang sudah memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pembiayaan masih sangat minim.

Akan tetapi, gencarnya sosialisasi dan edukasi yang dilakukan OJK (Otoritas Jasa Keuangan) dengan BEI (Bursa Efek Indonesia) membuat para pelaku usaha kian terbuka pandangannya mengenai pasar modal. Terutama, ada banyak kelebihan yang bisa diperoleh perusahaan yang go public. Misalnya, dari sisi pembiayaan yang lebih lentur dan berjangka panjang. Sehingga, cocok dengan kebutuhan industri yang membutuhkan dana untuk investasi jangka panjang.

“Antusiasme para pelaku usaha mengenai hal ini tinggi. Dengan dukungan pasar modal, diharapkan industri di Jabar akan lebih berdaya saing dan mampu berkontribusi lebih jauh lagi ke perekonomian serta kesejahteraan masyarakat,” katanya belum lama ini.

Perbankan balik melirik

Kepala BEI Kantor Perwakilan Jabar Reza Sadat Shahmeini, Jumat 8 November 2019 menuturkan, minat perusahaan Jabar terhadap pasar modal terus meningkat. Dia optimistis, pada 2020, akan cukup banyak perusahaan di Jabar yang melantai di bursa.

Meningkatnya minat dunia usaha tersebut, kata Reza, terjadi karena para pengusaha mulai menyadari banyak hal positif yang bisa didapat perusahaan dengan masuk pasar modal.

Dia mencontohkan, belum lama ini, salah satu perusahaan di Jabar memutuskan IPO untuk mendapatkan dana demi pengembangan usahanya.

BURSA Efek Indonesia/ANTARA

Langkah itu diambil karena perusahaan bersangkutan tak lagi bisa mendapatkan tambahan pembiayaan dari perbankan. Sebab, ambang batasnya telah maksimal kecuali jika menambah agunan. Sementara, perusahaan tak lagi memiliki agunan.

Uniknya, setelah melantai di bursa dan mampu mengumpulkan pendanaan, perbankan yang dulunya menolak memberikan pembiayaan justru berbalik menawarkan.

Bahkan, besaran bunganya diturunkan. Padahal sebelumnya, mendapatkan bunga kredit yang lebih rendah bukan perkara mudah.

Dibidik investor asing

Lain lagi dengan yang dialami perusahaan lainnya. Usai IPO, perusahaan bersangkutan justru mendapatkan mitra strategis dari negara lain untuk menggarap konsumen dengan market menengah ke atas. Padahal, sebelumnya produk yang dihasilkan hanya menyasar pasar menengah ke bawah.

Reza menjelaskan, hal itu terjadi karena perusahaan asing yang ingin mencari mitra di Indonesia biasanya akan melihat dan mengutamakan perusahaan yang sudah tercatat di bursa.

Alasannya, perusahaan yang sudah tercatat di bursa, datanya lebih mudah didapat karena adanya keterbukaan informasi emiten. Sementara, jika perusahaan tertutup, investor atau perusahaan asing yang mencari mitra kesulitan untuk memperoleh data perusahaan.

BURSA Efek Indonesia/ANTARA

Selain itu, tingkat kepercayaan perusahaan asing atau investor juga lebih baik karena citra perusahaan yang tercatat di bursa adalah perusahaan yang memiliki Good Corporate Governance (GCG) baik.

“IPO justru membuka akses yang lebih luas lagi untuk pengembangan bisnis perusahaan. Pasar Modal Indonesia bukan hanya merupakan akses yang tepat bagi para pengusaha untuk mendapatkan pendanaan perusahaan. Namun juga merupakan langkah tepat untuk menambah kepercayaan dari masyarakat luas,” katanya.

Meningkatnya minta dunia usaha yang melirik pasar modal juga didorong keluarnya aturan yang diterbitkan OJK sebagai regulator, Peraturan OJK Nomor 53 dan 54 tahun 2017 tentang Penawaran Umum dan Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu oleh Emiten Aset Skala Kecil dan Menengah. Aturan itu mempermudah UKM dan perusahaan rintisan untuk melantai di bursa.

UKM bukan sarang risiko

Ekonom dan Universitas Padjadjaran Teguh Santoso, Sabtu 9 November 2019 mengatakan, aturan yang dikeluarkan OJK membawa angin segar bagi UKM karena ada alternatif pembiayaan selain perbankan.

Dia meyakini, langkah OJK yang memempermudah aturan bagi UKM dan perusahaan rintisan untuk melantai di bursa akan mendorong iklim kompetisi yang menyebabkan pasar pembiayaan indonesia semakin kompetitif.

PENGUNJUNG mengamati beragam kerajinan UKM pada pameran Karya Kreatif Jabar di Jalan HOS Tjokroaminoto, Kota Bandung, Jumat 28 Juni 2019.*/ADE BAYU INDRA/PR

Menurut dia, ketika muncul satu emiten yang statusnya masih usaha menengah dan mampu menghimpun dana dari pasar modal, hal itu membuktikan bahwa UKM Indonesia masuk dalam kategori investment grade.

Investor menilai prospek bisnis dari UKM Indonesia bagus. Hal itu sekaligus mematahkan stigma perbankan yang melihat UKM sebagai sarang risiko.

“Ketika ada UKM yang berhasil melantai, terbukti banyak UKM kita yang (masuk kagetori) investment grade. Hal ini membawa iklim kompetisi yang lebih baik dari pasar pembiayaan karena tidak melulu mengandalkan perbankan. Sehingga, lambat laun akan mendorong penurunan suku bunga. Hal ini akan mendorong bank mengubah pola pikir mereka bahwa UKM bukan sarang risiko. Bank harus belajar memotret risiko,” katanya.

Pada krisis moneter 1998, UKM yang menjadi jaring pengaman ekonomi Indoensia. Terkait risiko yang mungkin terjadi dengan mendorong UKM masuk pasar modal, Teguh mengakui potensi risiko pasti ada. Hanya, menurut dia, hal tersebut tidak harus menjadi kekhawatiran meski tetap perlu adanya mitigasi risiko.

“Contoh trade war yang berpotensi terpapar adalah emiten yang produknya dijual ke Tiongkok, termasuk perbankan karena membiayai. Namun, UKM kita belum sampai ke sana, misalnya, perhotelan. Kecuali jika UKM tersebut produknya komoditas ekspor yang berpotensi terpapar,” ujarnya.

Dalam peraturan yang diterbitkan OJK, disebutkan bahwa emiten dengan aset skala kecil adalah perusahaan yang memiliki total aset maksimal Rp 50 miliar dan emiten dengan aset skala menengah senilai Rp 50-250 miliar.  

Regulasi ini juga memangkas sejumlah persyaratan, di antaranya penyampaian laporan keuangan cukup setahun terakhir atau sejak berdirinya emiten skala kecil yang kurang dari satu tahun.

Kemudian, penyusunan dan penyajian laporan keuangan dilonggarkan dengan cukup menggunakan standar akuntansi keuangan untuk entitas tanpa akuntablilitas publik (ETAP).

Sementara itu, untuk emiten skala menengah, cukup laporan keuangan dua tahun terakhir atau sejak berdirinya emiten yang kurang dari dua tahun.***

Bagikan: