Pikiran Rakyat
USD Jual 14.024,00 Beli 14.122,00 | Umumnya berawan, 26.1 ° C

Persaingan Ketat, ODOL dan Safety Angkutan Barang Kerap Diabaikan

Ai Rika Rachmawati
TRUK angkutan barang.*/DOK. PR
TRUK angkutan barang.*/DOK. PR

BANDUNG, (PR).- Ketatnya persaingan membuat banyak perusahaan angkutan barang menghalalkan segala cara untuk dapat bertahan dan tetap tumbuh berkembang. Tidak sedikit diantara mereka yang mengabaikan aturan dan unsur keamanan (safety).

Demikian diungkapkan Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Jawa Barat (Jabar), Widya Wibawa, di Bandung, Rabu 23 Oktober 2019. Oleh karena itu, menurut dia, Aptrindo Jabar mendukung pemerintah dalam penertiban kendaraan angkutan barang yang ODOL (Over Dimensi Over Loading).

"Aptrindo sangat mendukung penertiban ODOL dan aturan penerapan unsur keamanan pada setiap kegiatan angkutan barang, bain oleh swasta maupun perusahaan plat merah atau BUMN," katanya.
 
Ia mengatakan, pada dasarnya ODOL terjadi karena adanya tuntutan dari pemilik barang untuk dapat mengirimkan barang dalam jumlah banyak. Mereka menginginkan ongkos kirim murah dan frekuensi pengiriman yang sedikit.

Pemilik barang, lanjut dia, kerap menjadikan ongkos angkut murah sebagai pertimbangan utama. Di sisi lain, yang terpenting bagi pemilik angkutan adalah kendaraannya dapat beroperasi dan tidak menganggur.

"Asalkan bisa membantu biaya operasional kendaraan, walapun tidak 100%, biasanya pemilik kendaraan memilih memenuhi keinginan pemilik barang," tuturnya.

Tarif murah

Akibatnya, menurut dia, baik pemilik barang maupun kendaraan, kerap mengabaikan kondisi kendaraan yang akan digunakan. Mereka kerap memaksakan ODOL guna mengejar tarif murah.

"Keberadaan ODOL sebetulnya menimbulkan persaingan tidak sehat antarpengusaha angkutan barang. Bahkan, tidak jarang mengakibatkan kendaraan mogok, kecelakaan, kebakaran, dll," ucapnya.

Padahal, tutur Widya, ODOL menimbulkan kerugian yang tidak sedikit bagi dunia usaha. Bahkan, beberapa kali kecelakaan yang terjadi pada kendaraan angkutan barang, seperti yang belum lama ini terjadi di tol Cipularang, mengakibatkan banyaknya korban jiwa.

"Kasus kebakaran yang menimpa kendaraan di gudang pemilik barang di Bekasi belum lama ini juga disebabkan karena ODOL dan diabaikannya faktor keamanan," tutur Widya. 

Oleh karena itu, menurut dia, diperlukan komitmen dari regulator untuk menegakan aturan secara konsisten kepada semua pemilik barang dan pemilik angkutan. Hal itu penting untuk menekan angka kecelakaan sekaligus menciptakan iklim usaha yang sehat.

Di sisi lain, menurut dia, baik pemilik barang maupun pemilik angkutan juga harus berkomitmen untuk menaati peraturan yang ada. Mereka juga harus mengutamakan faktor keamanan, bukan semata mengejar biaya murah dan pendapatan untuk menutupi biaya operasional dan cicilan.

Seperti diketahui, saat ini pemerintah sedang melakukan penertiban kendaraan angkutan barang yang masuk dalam kategori ODOL dan melanggar Undang-Undang (UU) No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, Peraturan Pemerintah (PP) No. 74 tahun 2014 tentang Angkutan Jalan, dan PP 37 tahun 2017 tentang Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Penertiban ODOL dilakukan sebagai akibat dari tingginya tingkat kerusakan jalan dan biaya pemeliharaan jalan per tahun yang mencapai Rp 43 triliun per tahun. Selain itu juga karena banyaknya kecelakaan angkutan barang yang disebabkan oleh ODOL maupun kurangnya pemeliharaan kendaraan atau kendaraan yang tidak layak tetap dioperasikan. ***
 

Bagikan: