Pikiran Rakyat
USD Jual 14.039,00 Beli 14.137,00 | Cerah berawan, 26.6 ° C

Drone Mulai Sangat Mengganggu Keselamatan Penerbangan

Satrio Widianto
DIRJEN Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Polana B. Pramesti.*/SATRIO WIDIANTO/PR
DIRJEN Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Polana B. Pramesti.*/SATRIO WIDIANTO/PR

JAKARTA, (PR).- Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Polana B. Pramesti menilai keberadaan drone (pesawat nirawak) yang makin banyak digunakan masyarakat mulai mengkhawatirkan. Pasalnya, pergerakan drone itu mulai mengganggu dan membahayakan keselamatan serta keamanan penerbangan.

"Sudah banyak kejadian drone yang terbang di sekitar bandara. Padahal wilayah udara bandara harus aman dari segala bentuk kegiatan di luar yang terbang secara resmi," kata Dirjen Perhubungan Udara saat memberi sambutan dalam Diskusi bertema "Menata drone di langit pertiwi: Potenswi dan penerapannya sebagai angkutan logistik usara nasional", di Jakarta, Selasa, 22 Oktober 2019. 

Diskusi yang diselenggarakan Forum Wartawan Perhubungan (Forwahub) itu menghadirkan nara sumber Direktur Teknik PT Angkasa Pura II Djoko Murdjatmodjo, Direktur Operasional Airnav Moh Khatim, Direktur Kargo dan Pengembangan Usaha, Muh Iqbal, Mohamad Hasan Bashory sebagai Kasubdit Standardisasi dan Prosedur Navigasi Penerbangan, Ditnav Penerbangan. Johanis M. Tangke sebaga Kepala Subdit Sertifikasi Pesawat DKPPU dan Salim sebagai Plt VP Airport Safety PT Angkasa Pura I.

Dikatakan Polana, drone pada awal dipergunakan untuk kegiatan militer serta hobi seperti fotografi dan swafoto, tapi saat ini penggunaannya kini makin berkembang dan makin banyak masyarakat yang memiliki karena memang dijual bebas. Bukan hanya masyarakat, tapi drone saat ini juga banyak digunakan oleh perusahaan dagang dan transportasi dalam upaya mendistribusikan barang agar lebih efisien dan efektif.

"Untuk pengiriman ke wilayah yang sulit terjangkau dan membutuhkan biaya mahal dan waktu lama, maka menggunakan drone adalah solusi yang saat ini dilakukan," katanya.

Ke depan, kata Polana, drone akan makin banyak digunakan oleh berbagai pihak tidak hanya untuk hobi tapi juga untuk keperluan bisnis. "Namun demikian, masyarakat harus tahu bahwa ada aturan untuk bisa menerbangkan drone seperti dengan ketinggian dan wilayah mana yang tidak boleh dilalui," tambahnya.

Mengganggu penerbangan

Polana memberi contoh, di Bandara Changi, Singapura, gara-gara ada drone yang terbang menyebabkan sejumlah penerbangan ditunda. Demikian juga di Bandara I Gusti Ngurai Rai, Bali, seorang pilot melaporkan ada drone yang terbang di wilayah udara yang seharusnya hanya bisa dilalui pesawat berizin.

Teknologi pesawat udara tanpa awak atau yang lebih dikenal dengan drone, semula diperuntukkan untuk kebutuhan militer namun kini penggunaan drone telah berkembang ke area sipil untuk aktivitas bisnis dan hobi.

Untuk itu pemerintah melakukan penataan pengoperasian sistem pesawat udara tanpa awak di ruang udara Indonesia. Penataan yang termuat dalam PM 180 Tahun 2015 sebagaimana diubah terakhir dalam PM 47 tahun 2016 tersebut bertujuan untuk tetap terjaganya keselamatan penerbangan dari kemungkinan bahaya yang ditimbulkan akibat menabrak drone.

Dalam salah satu penataannya, drone tidak boleh dioperasikan pada ketinggian lebih dari 150 meter (500 ft), artinya penggunaan drone sebagai aktivitas bermain dan hobi hanya dibolehkan terbang di bawah 150 meter.

Adapun untuk aktivitas bisnis jika ingin terbang di atas 150 meter harus mendaftarkan drone serta pilotnya dengan mengajukan izin terbang ke Direktorat Jenderal Perhubungan Udara.***

Bagikan: