Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Sebagian berawan, 23.4 ° C

Domba Garut Kabupaten Bandung Lebih Terkenal dari Daerah Asalnya

Retno Heriyanto
SENI ketangkasan domba Garut yang diselenggarakan secara rutin pengurus Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia (HPDKI) Bandung Timur turut menjaga spesies Domba Garut dan seni budaya tradisi, seperti yang diselenggarakan Minggu 20 OKtober 2019 di Pamidangan Cisurupan, Jalan Cilengkrang I Kamp. Cisurupan Kel. Pasanggrahan Kec. Cibiru Kota Bandung.*/RETNO HERIYANTO/PR
SENI ketangkasan domba Garut yang diselenggarakan secara rutin pengurus Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia (HPDKI) Bandung Timur turut menjaga spesies Domba Garut dan seni budaya tradisi, seperti yang diselenggarakan Minggu 20 OKtober 2019 di Pamidangan Cisurupan, Jalan Cilengkrang I Kamp. Cisurupan Kel. Pasanggrahan Kec. Cibiru Kota Bandung.*/RETNO HERIYANTO/PR

BANDUNG,(PR).- Keberadaan domba Garut hasil peternakan Kabupaten Bandung menjadi incaran pecinta domba Garut dari dalam dan luar provinsi. Kegiatan rutin pamidangan Seni Ketangkasan Domba Garut mampu mempertahankan keaslian spesies Domba Garut.

“Cerita tentang domba Garut hasil peternakan Kabupaten Bandung seperti Arjasari, Ibun dan Pacet sudah dikenal pecinta seni ketangkasan Domba Garut ketimbang daerah asalnya. Sudah banyak prestasi yang diraih domba Garut hasil peternakan Ibun dan Paseh Kab. Bandung, terakhir waktu Expo Peternakan dan Kontes Ternak di Indramayu Juli lalu, hampir semua kelas diraih domba (Garut) asal Kabupaten Bandung,” ujar Dodo Abdulah, sesepuh HPDKI Bandung Timur, di sela kegiatan rutin Seni Ketangkasan Domba Garut di Pamidangan Cisurupan, Jalan Cilengkrang I Kel. Cisurupan Kec. Cibiru Kota Bandung, Minggu 20 Oktober 2019.

Selain indukan pejantan dan betina, menurut Dodo, domba Garut anakan atau petet juga menjadi incaran pecinta seni ketangkasan domba Garut. “Karena kualitasnya bagus domba Garut dari Kabupaten Bandung lebih banyak dicari,” ujar Dodo.

Namun demikian, menurut Dodo, meskipun peran pemilik dan pecinta domba Garut memberikan kontribusi untuk perekonomian, tapi hingga kini masih banyak nada sumbang pada penggiat seni ketangkasan domba Garut. “Padahal kami melakukan sebagai bagian dari kegiatan pelestarian budaya sekaligus meningkatkan perekonomian dan juga menyelamatkan spesies domba Garut yang hanya ada di Indonesia,” ujar Dodo.

Serap tenaga kerja

Sementara Zaenal Mutaqin, salah seorang peternak yang juga staf pengajar di salah satu universitas di Garut mengungkapkan bahwa peran sektor pertanian, termasuk di dalamnya peternakan dan kesehatan hewan, tidak hanya sebagai penyedia pangan namun juga berkontribusi dalam penyerapan tenaga kerja, dan penghasil devisa. “Apalagi dengan kondisi perekonomian seperti sekarang ini disejumlah sektor mengalami penurunan, tapi dikalangan peternak dan pemilik domba justru tidak dirasakan,” ujar Zaenal.

Bertahannya komoditi ternak domba, menurut Zaenal, dikarenakan keberadaan pemilik dan peternak domba merupakan kegiatan perekonomian berbasis produktivitas rakyat dan kemandirian ekonomi. Pengembangan komoditas domba dan kambing menjadi sumber protein hewani utama selain sapi.

Hingga saat ini komoditas domba dan kambing pada kurun waktu 2015-2019 populasinya tumbuh rata-rata 5,8% per tahun. Di tahun 2018, populasi ternak domba dan kambing mencapai 36 juta ekor, dipelihara sederhana skala rumah tangga peternak (<10 ekor), yang menyebar di seluruh wilayah Indonesia, dan didominasi oleh Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, serta Jawa Timur dan populasi diprediksi akan tetap meningkat pada periode lima tahun berikutnya.

Sementara berdasarkan Proyeksi FAO-OECD Agriculture Outlook Tahun 2015-2025 konsumsi daging global diperkirakan mencapai 35,3 kg per kapita/tahun, dari 1,3 kg pada tahun 2015.  Walaupun daging domba dan kambing tidak termasuk dalam pangsa produk yang diperdagangkan secara global, namun untuk pemenuhan kepentingan tertentu (ritual keagamaan), komoditas ini mempunyai segmentasi pasar global yang sangat menjanjikan di wilayah Asia, Afrika, dan Pasifik.

Berkaitan dengan kegiatan pamidangan yang diselenggarakan secara rutin oleh pengurus organisasi HPDKI disetiap wilayah menurut Zaenal., tidak hanya memerhatikan kelangsungan domba dan kambing dari sisi ekonomi maupun hobi. Namun disisi lain, kegiatan juga menjadi bagian pelestarian warisan budaya, berupa seni pencak silat, seni karawitan dan tembang juga silaturahmi, khususnya tradisi yang berkembang di sejumlah wilayah Jawa Barat.***

Bagikan: