Pikiran Rakyat
USD Jual 14.024,00 Beli 14.122,00 | Umumnya berawan, 26.1 ° C

Pemasaran, Kelemahan Terbesar PMI Purna

Ai Rika Rachmawati
ILUSTRASI Pekerja Migran Indonesia (PMI) purna Kab.Sukabumi.*/AHMAD RAYADIE/PR
ILUSTRASI Pekerja Migran Indonesia (PMI) purna Kab.Sukabumi.*/AHMAD RAYADIE/PR

BANDUNG, (PR).- Pemasaran menjadi kelemahan terbesar pekerja migran Indonesia (PMI) purna dalam mengembangkan usahanya. Padahal, tidak sedikit di antara mereka yang memiliki produk kreatif dan inovatif.

Demikian diungkapkan Kepala Seksi Perlindungan dan Pemberdayaan Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Bandung, Neng Wepi, di Bandung, Minggu 20 Oktober 2019. Oleh karena itu, menurut dia, BP3TKI sebagai unit kerja dari Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) di wilayah Jabar mengirimkan sejumlah produk PMI purna binaan mereka untuk mengikuti Trade Expo Indonesia (TEI) 2019.

"Tahun ini kami mengirimkan beberapa produk PMI, meskipun belum semua produk bisa ditampilkan," ujarnya.

TEI merupakan salah satu event tahunan pameran dagang terbesar di Indonesia. Kegiatan ini diikuti oleh berbagai perusahaan, mulai dari perusahaan besar hingga perusahaan startup maupun UKM dari seluruh indonesia.

Pada 2019 ini, TEI digelar pada 16-20 Oktoner di Indonesia Convention Exhibition (ICE) Bumi Serpong Damai (BSD) City, Tangerang, Banten. Ini merupakan TEI yang ke-34.

Tahun ini BP3TKI Bandung mengirimkan pengusaha keripik tempe asal Garut, Dian Herdiansah, untuk mewakili PMI se-Jawa Barat (Jabar) dalam ajang tersebut. Dia adalah pemilik Keripik Tempe Kojo yang pada 2001-2004 pernah bekerja sebagai PMI di Jepang untuk sektor.

Kini ia telah sukses memasarkan produknya ke berbagai negara, seperti Jepang, Inggris, Qatar, dan Korea. Bahkan, saat ini Diam sedang berusaha membuka pasar Australia dan Selandia Baru.

Sebagai perwakilan PMI se-Jabar pada TEI 2019 tersebut Dian tidak hanya memasarkan produk unggulannya. Ia juga membawa sejumlah produk unggulan dari PMI binaan BP3TKI Bandung lainnya, seperti kopi, kerupuk dorokdok, bakso aci, teh, dan hiasan kaligrafi.

Neng berharap, tahun depan BP3TKI Bandung bisa menambah jumlah produk PMI purna yang diperkenalkan di ajang TEI. Dengan demikian, menurut dia, iklim wirausaha purna PMI akan semakin menggeliat.

"Salah satu fungsi BNP2TKI sebagai instansi pemerintah adalah menciptakan wirausahawan dari kalangan pekerja migran purna. Oleh karena itu, kesempatan untuk mengenalkan produk purna PMI ini tidak boleh kami lewatkan," katanya***

 

Bagikan: