Pikiran Rakyat
USD Jual 14.039,00 Beli 14.137,00 | Cerah berawan, 26.6 ° C

Menyelesaikan Persoalan Pembangunan Butuh Beragam Pendekatan Solusi

Yulistyne Kasumaningrum
PEMBICARA Dr. Putu Desy Apriliani dari Virginia Polytechnic Institute and State University, Dr. Kurniawan Saefullah dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran (Unpad), serta Nunung, S.IP., M.M dari Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Provinsi Jabar saat Diskusi Panel “Women Empowerment and Microfinance Dilemma in Bali and West Java”, di Bandung akhir pekan lalu. */YULISTYNE KASUMANINGRUM/PR
PEMBICARA Dr. Putu Desy Apriliani dari Virginia Polytechnic Institute and State University, Dr. Kurniawan Saefullah dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran (Unpad), serta Nunung, S.IP., M.M dari Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Provinsi Jabar saat Diskusi Panel “Women Empowerment and Microfinance Dilemma in Bali and West Java”, di Bandung akhir pekan lalu. */YULISTYNE KASUMANINGRUM/PR

BANDUNG, (PR).- Untuk pembangunan yang multidimensional tidak ada satu solusi yang berdiri sendiri yang dapat menyelesaikan beragam persoalan. Konsep pembangunan yang disusun harus terintegrasi dengan berbagai bidang dan dimensi, termasuk kebudayaan.

Begitupun di Jawa Barat, pemerintah Jabar harus mampu menggali budaya yang dimiliki dan mengintegrasikannya dengan berbagai persoalan pembangunan yang dihadapi. Serta tidak hanya semata menduplikasi program ataupun pendekatan yang telah sukses dilakukan di daerah lain untuk menyelesaikan persoalan karena setiap daerah memiliki karakter dan persoalan yang berbeda.

Demikian terungkap saat Diskusi Panel “Women Empowerment and Microfinance Dilemma in Bali and West Java”, di Bandung akhir pekan lalu. Kegiatan ini diselenggarakan HIMA Magister Manajemen Keuangan Mikro Terpadu dan Magister Ilmu Manajemen Unpad.

Hadir sebagai pembicara Dr. Putu Desy Apriliani dari Virginia Polytechnic Institute and State University, Dr. Kurniawan Saefullah dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran (Unpad), serta Nunung, S.IP., M.M dari Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Provinsi Jabar. 

Desy dalam pemaparannya mengatakan untuk menyelesaikan beragam permasalahan pembangunan, pemerintah harus memperkuat riset dan database, serta konsisten pada sumber informasi. Dengan demikian harapannya program yang dilaksanakan tepat sasaran dan menyentuh persoalan yang ada.

“Pembangunan sangat multidimensional, maka pemerintah perlu mengelola hal tersebut. Harus sebuah integrated concept unyuk menyelesaikan masalah yang dihadapi bersama-sama,” katanya. Termasuk perlunya kepekaan terhadap kebudayaan lokal.

Menurut dia, kebudayaan lokal merupakan kunci di dalam pembangunan. Ia memaparkan dalam konteks Lembaga Perkreditan Desa (LPD) di Bali, aspek budaya memiliki peranan yang sangat besar dalam menentukan kesuksesan suatu LPD.

Kebudayaan, menurut dia, menjadi dasar pondasi untuk modal sosial dari masyarakat itu sendiri, bagaimana masyarakat bergotong royong, saling membantu, dana saling percaya. 

“Untuk menyelesaikan persoalan di masyarakat tidak bisa digeneralisir. Tidak apa-apa memiliki general template, tetapi harus tetap sensitif dengan perbedaan budaya, sosiologi ekonomi, politik desa dan lainnya,” kata Desy.

Sementara itu Kurniawan Saefullah menilai pembangunan adalah suatu proses mengubah kondisi suatu masyarakat dari kondisi yang kurang beruntung atau kurang sejahtera menjadi lebih beruntung atau lebih sejahtera. Dengan demikian yang diubah adalah masyarakat, baik sebagai individu maupun
kelompok.

Masyarakat, lanjutnya, hidup di satu wilayah geografis tertentu yang tentu saja di dalamnya termasuk alam dan juga kebudayaan. Artinya, suatu masyarakat akan sangat terkait dengan kebudayaan yang ada. Oleh karena itu, menurutnya, beragam program pembangunan yang dilakukan pemerintah sudah seharusnya mempertimbangkan kebudayaan dari masyarakat setempat.

“Tidak ada single solution untuk various problem. Makanya harus dicari kultur Jabar. Misalnya dari Bandung, sampai ke wilayah Utara dan Selatan mungkin akan berbeda. Jika kita bisa mengidentifikasi kulturnya kita bisa lihat mana yang cocok untuk menyelesaikan persoalan yang ada,” katanya.

Perempuan

Sementara itu Kaprodi MMKmT Dr. Arief Helmi mengatakan perempuan memiliki peranan penting dalam mendukung peningkatan kesejahteraan keluarganya, serta masyarakat secara umum. Pemberdayaan perempuan adalah strategi kunci mengentaskan kemiskinan untuk menuju kesejahteraan.

Hanya saja ada sejumlah masalah yang masih dihadapi perempuan, diantaranya kurangnya kases dan kendali atas sumber daya produktif, kesenjangan akses terhadap penyuluhan dan pelatihan, kemiskinan waktu dan bebas kerja yang tidak setara, pernikahan dini dan kekerasan.

“Salah satu pintu untuk pemberdayaan perempuan adalah melalui keuangan mikro, yang dianggap tepat mendorong perempuan untuk produktif dengan mensinergikan peran dan fungsi perempuan sebagai ibu dan pendidik dalam keluarga,” ujarnya.

Sementara itu Nunung memaparkan pemerintah Jabar telah memberikan perhatian khusus dalam upaya pemberdayaan perempuan. Selain melalui sejumlah kegiatan pemberdayaan yang telah dilakukan, saat ini juga telah diluncurkan program Sekoper Cinta (SC), yakni Sekolah Perempuan Capai Impian dan Cita-cita.

“SC hadir sebagai wadah perempuan bertukar pengetahuan dan pengalaman untuk meningkatkan kualitas hidup. Kegiatan ini diharapkan dapat menajdi inovasi dam solusi baru dalam meminimalisir permasalahan sosial perempuan,” ujarnya.***

Bagikan: