Pikiran Rakyat
USD Jual 14.032,00 Beli 14.130,00 | Umumnya cerah, 25.9 ° C

Kemendag Perbanyak Jalinan Perdagangan Bebas, Indonesia Terancam Jadi Pasar

Tia Dwitiani Komalasari
ILUSTRASI.*/ DOK.PIKIRAN RAKYAT
ILUSTRASI.*/ DOK.PIKIRAN RAKYAT

TANGERANG, (PR).- Indonesia harus siap menerima serbuan barang impor sebagai dampak dari banyaknya perjanjian perdagangan bebas yang kini sedang dikebut pemerintah. Perjanjian perdagangan tersebut menyebabkan bea masuk impor menjadi rendah bahkan mencapai nol.

"Indonesia harus siap menjadi pasar sebagai dampak dari banyaknya perjanjian bebas," kata Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita saat menjadi pembicara dalam Trade, Tourism, and Investment Forum di gelaran Trade Expo Indonesia, Tangerang, Kamis 17 Oktober 2019.

Enggar mengatakan, saat ini Indonesia sudah menyelesaikan 15 perjanjian perdagangan bebas. Sementara 12 perjanjian perdagangan lainnya ditargetkan selesai tahun depan. 

Menurut dia, perjanjian perdagangan bebas tersebut diharapkan dapat meningkatkan ekspor Indonesia. Barang eskpor Indonesia dapat memiliki daya saing yang lebih tinggi karena harganya lebih efisien. 

Sebaliknya, dirinya tidak memungkiri jika perjanjian perdagangan tersebut akan mempermudah barang dari negara lain untuk masuk ke Indonesia. Oleh sebab itu, pemerintah tengah berupaya untuk memperkuat pengamanan barang barang tertentu sehingga bisa memiliki daya saing. 

Selain iu, Enggar mengatakan, pemerintah juga berupaya untuk menggenjot investasi termasuk di sektor manufaktur. Dengan demikian, produksi barang bisa dilakukan di dalam negeri dengan memgoptimalkan tenaga kerja Indonesia. 

"Kami juga melakukan revisi berbagai aturan termasuk yang bisa dijadikan celah untuk impor ilegal. Ketersediaan bahan baku juga menjadi penting untuk mendorong daya saing produk lokal," ujarnya. 

Manufaktur

Sementara itu, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, Thomas Lembong,  mengatakan Indonesia perlu fokus dalam mendapatkan investasi asing di sektor manufaktur. Sebab persaingan untuk mendapatkan investasi sektor tersebut sangat ketat di beberapa negara. 

"Jadi fokus perhatian investasi itu di manufaktur. Itu rebutannya ganas sekali baik oleh Indonesia, Vietnam, Thailand, Malaysia, Bangladesh, dan India," ujar dia. 

Thomas mengatakan,  kondisi itu mendorong pemerintah Indonesia untuk jemput bola dalam menarik investasi. Realisasi investasi itu pun perlu dikawal dengan ketat. "Kami terus meningkatkan koordinasi dengan Kementerian Perindustrian. Misalnya baru minggu lalu kami ke Tiongkok untuk mengundang investasi industri mebel yang akan pindah ke Indonesia," kata dia. 

Lain halnya dengan investasi di sektor jasa seperti ekonomi digital dan teknologi. Investasi di sektor tersebut sudab berjalan cukup baik. Apalagi Indonesia memiliki tiga unicorn dam satu decacorn.  "Investasi sektor itu sudah berjalan baik. Kami tinggal mendukung saja," tuturnya.***

Bagikan: