Pikiran Rakyat
USD Jual 14.116,00 Beli 14.214,00 | Badai petir, 27.5 ° C

Kemacetan Lalu Lintas Membuat Harga Daging dan Telur Jadi Mahal

Satira Yudatama
ILUSTRASI kemacetan lalu lintas.*/DOK. PR
ILUSTRASI kemacetan lalu lintas.*/DOK. PR

BANDUNG, (PR).- Sekitar 96 persen kebutuhan pangan warga Kota Bandung berasal dari luar daerah. Ketika terjadi kendala proses distribusi, pasokan terlambat tiba di Kota Bandung, kemudian menyebabkan harga pangan tersebut meningkat. Biasanya, hal itu terjadi saat ada peningkatan permintaan warga Kota Bandung akan komoditas pangan bersangkutan, seperti menjelang Ramadan. 

Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Bandung Elly Wasliah mengatakan, penyebab keterlambatan pasokan tiba di Kota Bandung karena kemacetan lalu lintas. Dia menyebutkan, daging beserta telur ayam merupakan komoditas pangan yang paling berisiko mengalami lonjakan harga.

"Kebutuhan warga Kota Bandung akan daging beserta telur ayam, tutur Elly, lumayan tinggi. Ketika menjelang Ramadan, dan Idulfitri, permintaan akan telur meningkat 3-4 kali lipat daripada rata-rata per hari. Sementara itu, permintaan daging ayang meningkat 2-3 kali lipat daripada rata-rata per hari," tutur Elly di Bandung, Minggu 13 Oktober 2019.

Sebagian masyarakat Kota Bandung berpendapat kebutuhan pokok mahal. Dalam hal upaya pengendalian harga kebutuhan pokok, kelompok masyarakat  itu menanggap pemerintah kota Bandung belum berupaya optimal. Pendapat masyarakat mengenai kebutuhan harga pokok mahal tergambar perihal kebutuhan harga pokok pada rilis hasil survei Indonesian Politics Research & Consulting. IPRC melakukan survei pada 10-19 September 2019. 

Populasi survei merupakan warga negara Indonesia di Kota Bandung yang berusia 17 tahun ke atas, atau telah menikah (mempunyai hak pilih), mengingatkan akan syarat utama daftar pemilih tetap (DPT) dalam pemilu. DPT Kota Bandung 2019 berjumlah 1,7 juta jiwa. 

Harga mahal

IPRC menerapkan metode penarikan sampel multistage random sampling, menetapkan 440 responden, 436 di antaranya memenuhi response rate (responden yang dapat diwawancarai secara valid). Margin of error survei rata-rata 4,7% pada tingkat kepercayaan 95%. Tiap-tiap nilai yang muncul dikurang, atau ditambah margin of error. Sejumlah 13% menyebutkan, harga kebutuhan pokok mahal. Sejumlah 42% responden menyebutkan, pengendalian harga pokok lebih buruk daripada tahun sebelumnya. Sejumlah 42,4% pengendalian harga pokok tidak berubah. 

Perihal itu, Elly menyebutkan, harga kebutuhan pokok, termasuk  komoditas pangan justru stabil pada 2019. Hal itu berbeda dengan persepsi masyarakat yang tertera pada survei IPRC. Peningkatan harga kebutuhan pokok hanya terjadi saat permintaan tinggi, seperti menjelang Ramadan, dan Idulfitri. "Kendati demikian, kami tetap mendengarkan persepsi masyarakat yang tercatat pada hasil survei IPRC untuk berupaya lebih baik dalam hal menstabilkan harga komoditas harga pokok," kata Elly 

Pemaparan tim pengendalian inflasi Kota Bandung, ucap Elly, juga menunjukkan harga komoditas pangan stabil pada September 2019. Sejumlah komoditas pangan favorit masyarakat Kota Bandung, seperti telur, daging ayam, cabai berharga normal pada September 2019. 

Ketika terjadi lonjakan harga, Elly menyebutkan, Pemkot Bandung selalu mengambil langkah pengendalian berupa penyelenggaraan operasi pasar murah, atau bazar (murah). Agar pasokan beserta ketersediaan pangan bagi warga Kota Bandung terjaga, pihaknya menjalin kerja sama dengan sejumlah pemasok, dan daerah penghasil (pangan). 

Pengaruh cuaca

Selain proses distribusi, Elly mengatakan, terdapat sejumlah faktor lain yang menyebabkan harga komoditas pangan meningkat. Salah satu di antaranya, pengaruh cuaca yang bisa saja menyebabkan masa panen tertunda. Pada pangan berjenis sayuran, faktor cuaca bisa sampai menyebabkan gagal panen. 

Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Gin Gin Ginanjar menyampaikan data kebutuhan pangan di Kota Bandung. Kebutuhan akan telur, rata-rata 120 ton per hari, seluruhnya merupakan pasokan dari luar daerah. Kebutuhan akan daging ayam, rata-rata 480 ton per hari, juga mengandalkan pasokan dari luar daerah. Sementara itu, kebutuhan akan beras, rata-rata 600 ton per hari. Kota Bandung hanya bisa memenuhi 20,65 ton, sedangkan sisanya (579,35 ton) berasal dari luar daerah.

Becermin akan data tersebut, kebutuhan warga Kota Bandung akan telur saat menjelang Ramadan bisa mencapai 360-480 ton per hari. Sementara itu, kebutuhan akan daging ayam saat menjelang Ramadan, bisa menembus 1.000 ton per hari.*** 

Bagikan: