Pikiran Rakyat
USD Jual 14.116,00 Beli 14.214,00 | Sedikit awan, 25 ° C

PLN Ditantang Melistriki Seluruh Papua pada 2020

Satrio Widianto
ILUSTRASI.*/CANVA
ILUSTRASI.*/CANVA

BERATNYA medan tanah Papua yang bergunung-gunung penuh bukit dan jurang, sudah bukan menjadi rahasia lagi. Kota-kota pun banyak tersambung satu sama lain. Meskipun demikian, ini menjadi tantangan serius bagi BUMN listrik, yakni PT PLN (Persero), untuk melistriki seluruh wilayah di timur Indonesia itu menjadi terang benderang.

"Pelistrikan Papua merupakan pekerjaan rumah besar yang dihadapi PT PLN (Persero) Direktorat Bisnis Regional Maluku dan Papua, dalam menyokong cita-cita Indonesia terang secara berkeadilan," kata Direktur Bina Program Kelistrikan Kementerian ESDM Jisman S, di Jakarta, Jumat, 11 Oktober 2019. 

Dikatakan, merupakan target untuk mencapai Rasio Desa Berlistrik (RDB) 100% di  Provinsi Papua dan Papua Barat pada 2020 nanti. Saat ini masih ada 414 desa dengan lebih kurang 78.000 rumah yang harus dilistriki.

Berdasarkan data Kementerian ESDM, Rasio Desa Berlistrik (RDB) di Provinsi Papua dan Papua Barat saat ini sebesar 98,3%, yang dicapai melalui kontribusi PLN (48,5%), program LTSHE (Lampu Tenaga Surya Hemat Energi) dari  Kementerian ESDM dan listrik swadaya inisiatif pemda-pemda setempat.  

"Namun menghadirkan terang di seluruh bumi Papua bukan masalah sederhana. Tantangan penugasan PLN di Indonesia Timur, khususnya Papua untuk menuju RDB 100% adalah keterbatasan infratruktur karena sulitnya medan geografis, kerapatan hunian yang rendah, serta  kompetensi sumber daya manusia yang perlu ditingkatkan," kata Jisman.

Beratnya medan jelajah di Papua dialami Farah Aida Ilmiatul Kulsum, mahasiswa Ilmu Budaya dari Universitas Gajah Mada, yang tahun lalu ikut dalam tim surveyor program inisiatif strategis “Ekspedisi Papua Terang 2018”. Tim Farah yang terdiri dari 3 mahasiswa plus tim PLN mendapatkan wilayah survey di pedalaman Mimika, Timika. 

Untuk menuju lokasi tersebut, mereka harus menempuh perjalanan laut dengan kapal kecil selama 9 jam, menembus ombak besar yang sewaktu-waktu bisa membalikkan kapal. Survei yang dilakukan Farah meliputi penghitungan jumlah penduduk yang harus dilayani, pengukuran luas lahan dan bidang tanah sebagai lokasi penempatan instalasi listrik, serta kondisi medan jelajah.  

Hasil survei tersebut menjadi dasar penentuan jenis sistem pembangkit listrik yang akan diterapkan. Daerah Timika karena lokasinya di muara dan merupakan wilayah berawa-rawa, yang tidak memungkinkan dibangun instalasi permanen dari semen, tim survey merekomendasikan penggunaan panel surya sebagai pembangkit listrik skala lokal.

Menindaklanjuti hasil survei

Ekspedisi Papua Terang merupakan langkah awal PLN dalam membangun sistem kelistrikan Papua. Data dari hasil survei tersebut sekarang sudah mulai dieksekusi melalui program lanjutan “1000 Renewable Energi untuk Papua.” 

Melalui survei tersebut, PLN mendapatkan data berapa desa yang harus dilistriki, berapa jumlah penduduknya, bagaimana tingkat ekonominya, dan sumber energi apa yang potensial.

Executive Vice President Operasi Regional Maluku Papua (OR-MP) Indradi Setiawan mengatakan, hasil survei  tim EPT  menjadi pembuka peta tentang berapa kapasitas listrik yang diperlukan untuk Papua, serta program dan jenis pembangkit apa yang cocok untuk  masing-masing lokasi. Dari sana pula PLN bisa menghitung keperluan SDM yang akan mengelola, serta bagaimana menyiapkan pembangunan dan materialnya. 

Mendukung pernyataan Farah, menurut Indradi, untuk wilayah Papua yang jumlah penduduknya tidak besar, dengan kerapatan hunian rendah karena terpencar di berbagai pelosok, memang tak mungkin dibangun infrastruktur kelistrikan berskala besar. 

Pembangunan kelistrikan diharapkan bisa berjalan paralel dengan pengembangan infrastruktur seperti jalan raya, pengembangan pusat-pusat produksi, ekonomi, pendidikan, kesehatan, serta budaya yang semakin maju, modern, dan mandiri. Ini dalam rangka mendukung dan memperkuat kemajuan masyarakat yang adil dan makmur dalam bingkai NKRI.***

Bagikan: