Pikiran Rakyat
USD Jual 14.116,00 Beli 14.214,00 | Sedikit awan, 20.7 ° C

Peran Pesantren Kian Strategis Untuk Berdayakan Ekonomi

Erwin Kustiman
null
null

BANDUNG, (PR).- Peran pesantren semakin strategis bagi upaya mempercepat kemandirian ekonomi umat Islam secara keseluruhan. Dalam era inovasi teknologi, pesantren juga harus terlibat langsung dalam setiap upaya mengadopsi dan mendayagunakan setiap sarana teknologi terkini termasuk dalam hal teknologi keuangan atau financial technology (fintech). 

Demikian benang merah yang mengemuka pada Diskusi Kelompok Terpumpun (FGD) betema Pemberdayaan UMKM Berbasis Fintech dan Kewirausahaan Melalui Peran Pesantren dan Lembaga Amil Zakat di Hotel Hemangini Jalan Setiabudhi Kota Bandung, Kamis 10 Oktober 2019. Kegiatan menghadirkan narasumber Guru Besar Ekonomi dari FPEB UIniversitas Pendidikan Indonesia Prof Dr Eeng Ahman dan dosen dan pakar ekonomi syariah dari UPI Dr Amir Machmud. FGD yang dibuka Ketua LPPM UPI Prof Dr Ahman, MPd dihadiri peserta dari kalangan pesantren, kopontren, asosiasi UMKM, dan komunitas ekonomi syariah di Kota Bandung.

Eeng Ahman memaparkan hasil riset FPEB UPI yang menunjukkan fakta mayoritas UMKM belum bisa “naik kelas” dan masih berkutat pada permasalahan klasik seperti minimnya akses permodalan, kompetensi yang minim, hingga pengetahuan bisnis yang juga tidak memadai. “Diperlukan terobosan dari institusi nonformal yang terdekat dengan lingkungann masyarakat. Pemimpin nonformal dari kalangan pesantren memiliki peran strategis dalam upaya transformasi,” ujar Eeng.

Sementara itu Amir Machmud menegaskan bahwa kemandirian ekonomi harus menjadi kredo bagi mayoritas muslim yang justru masih belum beranjak tingkat kesejahteraannya. “Padahal, kemandirian bagi seorang  muslim adalah lambang perjuangan semangat jihad (fighting spirit) yang sangat  mahal harganya,” ungkap Amir Machmud.

Penulis produktif buku-buku tentang ekonomi syariah ini menegaskan dalam konteks sederhana kemandirian adalah kondisi seseorang atau sekelompok masyarakat mampu untuk memenuhi kebutuhan ekonomi tanpa bergantung pada orang lain. “Ada tiga syarat untuk hal itu yakni membangun ekonomi secara mandiri tanpa tergantung pihak lain dengan bertumpu ada kekuatan lokal. Kemudian, membangun ekonomi yang semata berorientasi masyarakat dan ketiga menggugat dominasi ekonomi kelompok tertentu tanpa harus mengesampingkan kerjasama yang sifatnya setara,” kata Amir menegaskan.

Aplikasi “fintech”

Pada kesempatan tersebut juga diperkenalkan sebuah prototipe aplikasi fintech berbasis ekonomi syariah yang ke depan diharapkan menjadi terobosan bagi upaya memperluas akses masyarakat pada sumber keuangan.

“Hanya saja kita terus melakukan upaya penyempurnaan agar aplikasi ini benar-benar menjadi solusi ekonomi umat. Bukan sebaliknya justru memerangkap masyarakat dengan  kredit ribawi yang malah menjerat,” ujar Amir.

FGD tersebut menghimpun usulan, saran, dan kritik dari berbagai pihak, sehingga diharapkan aplikasi fintech syariah yang di masa depan mempersyaratkan peran pesantren dan LAZ tersebut tetap dalam koridor regulasi dan syar’i. 

“Kami berharap syariah tidak hanya sebatas label tapi benar-benar merupakan solusi terobosan bagi upaya mengangkat derajat ekonomi umat. Kuncinya adalah pembelajaran terus-menerus kepada masyarakat agar benar-benar menghayati dan memahami makna ekonomi syariah secara nyata dan mengimplementasikannya dalam kehidupan,” katanya. ***

 

 

 

Bagikan: