Pikiran Rakyat
USD Jual 14.116,00 Beli 14.214,00 | Badai petir, 27.5 ° C

Memacu Ekosistem Halal Melalui Syariah Card

Yulistyne Kasumaningrum
ILUSTRASI.*/CANVA
ILUSTRASI.*/CANVA

BANDUNG, (PR).- Adaptasi terhadap perkembangan zaman, khususnya kebutuhan masyarakat saat ini merupakan kunci penting untuk memacu perkembangan ekosistem halal tanah air, termasuk dalam mendorong kemajuan perbankan syariah. Salah satunya melalui kehadiran syariah card atau kartu pembiayaan syariah yang saat ini sudah menjadi bagian tidak terlepaskan dalam kehidupan masyarakat modern saat ini.

Siti Fatimah, salah seorang warga Bandung, memutuskan segera menggunakan syariah card, belum lama ini. Ia yang lebih sering bertransaksi non tunai, termasuk berbelanja daring mengaku membutuhkan kartu kredit. Di sisi lain, ia berharap dapat lebih baik dalam menjalankan syariat agamanya.

“Syariah card memberikan fasilitas yang nyaris sama dengan yang disediakan kartu kredit konvensional, belanja daring termasuk bepergian ke luar negeri. Namun bedanya, syariah card tidak bisa melakukan transaksi di merchant yang bertentangan dengan syariah, misalnya di tempat yang menjual minuman keras. Paling tidak ini bisa membantu saya agar bisa lebih baik dalam menjalankan hidup yang sesuai syariat,” katanya.

Studi Consumer Payment Attitudes 2018 yang dirilis Visa mengungkap masyarakat Indonesia kian percaya diri melakukan transaksi non tunai termasuk bepergian tanpa uang tunai. Menjalani gaya hidup nontunai dinilai menjadi lebih mudah dan menarik karena banyaknya opsi cara membayar.

Mulai penggunaan kartu, teknologi nirkontak, hingga yang berbasis kode QR. Masyarakat juga menginginkan proses pembayaran yang lebih cepat, mudah, dan aman yang mendorong memulai gaya hidup nontunai sembari mengurangi transaksi tunai.

Ketua Program Studi Ekonomi Islam Universitas Padjadjaran Dr. Cupian munculnya syariah card merupakan konsekuensi dari perkembangan zaman. Bagi masyarakat saat ini keberadaan syariah card memang dibutuhkan, dimana masyarakat memerlukan sarana untuk mempermudah transaksi.

Hanya, ia menekankan meski kerap dianalogikan sebagai kartu kredit versi syariah, syariah card misalnya Hasanah Card yang dikeluarkan BNI Syariah berbeda dengan kartu kredit yang dikeluarkan oleh perbankan konvensional. Perbedaannya dapat dilhat dari sisi akad yang dilakukan.

SALAH seorang nasabah tengah berbincang dengan Pimpinan Cabang Asia Afrika BNI Syariah Zen Assegaf  saat memperingati Hari Pelanggan Nasional.*/YULISTYNE KASUMANINGRUM/PR

Dijelaskan, pada kartu kredit yang dikeluarkan perbankan konvensional nasabah murni melakukan pinjaman kepada perbankan. Sedangkan pada syariah card, akad yang digunakan merupakan akad jual beli yang pembayarannya ditangguhkan.

“Jadi yang menjual barang tadi adalah bank, tapi pembayaran nasabah ditangguhkan. Bank bukan sekedar meminjamkan uangnya. Tentu dengan jual beli, bank berhak untuk mengambil marjin,” ujarnya.

Tak hanya syariah card, Cupian mengatakan, saat inipun industri keuangan syariah juga harus mengadaptasi layanan perusahaan financial technology (fintech) dan uang elektronik. Karena, jika tidak melakukan hal tersebut dikhawatirkan justru akan dapat menggerus pasar dari bank syariah itu sendiri.

Menurut dia, berbagai penyesuaian dari industri keuangan syariah terhadap kondisi saat ini tidak hanya dapat mempertahankan pasar, tetapi justru dapat mendorong peningkatan pangsa pasar keuangan syariah, khususnya perbankan syariah yang masih rendah. Alasannya, dengan adaptasi yang dilakukan, layanan dari perbankan syariah yang selama ini masih terbatas menjadi lebih luas.

“Jelas akan sangat membantu memacu perkembangan ini. Karena kehidupan masyarakat sudah mengarah kesana, penting melakukan penyesuaian namun tetap sesuai dengan prinsip syariah,” katanya.

Ghaida Tsurayya, pelaku usaha sekaligus pengguna Hasanah card mengaku telah merasakan kemudahan dengan menggunakan kartu tersebut. Salah satunya kala ia melancong ke sejumlah negara di Eropa dan Timur Tengah. Ia dapat menggunakan kartu tersebut dibanyak merchant termasuk saat menggunakan jasa taksi dan berbelanja di koperasi di Palestina.

Syariah card, lanjutnya, memberikan experience lebih yang selaras karakter milenial yang menginginkan experience ketimbang memiliki barang. Oleh karena itu ia berharap BNI Syariah mampu mengedukasi generasi muda bijak dalam mengelola keuangannya.

“Anak muda sekarang kan banyak mengeluarkan uang untuk experience, bagaimana caranya mengedukasi bukan konsumtif yang hedon, bank tidak hanya menjual produk perbankan tetapi bagaimana menenakan value dari dakwah yang ada,” kata Ghaida.

Kepala wilayah barat BNI Syariah Dade Darmawan sejak diluncurkan pada 2009 lalu perkembangan Hasanah Card menunjukkan tren positif. Hal tersebut seiring gencarnya upaya mengajak masyarakat untuk bersyariah serta semakin tingginya minat masyarakat untuk berkeuangan syariah dan melakukan transaksi non tunai.

Dikatakan akuisisi nasabah baru kartu pembiayaan syariah juga mengalami peningkatan dengan rata-rata pertumbuhan di atas 20 persen setiap tahunnya. Saat ini jumlah pemegang kartu tercatat mencapai 350.000 kartu secara nasional. Sedangkan untuk di Jabar sendiri pada 2019 ada 20.000 pemegang kartu.

“Untuk Bandung sendiri karena dikenal sebagai destinasi wisata, maka yang menjadi target market adalah tempat wisata, kuliner, dan bekerjasama dengan hotel syaraih. Bagaimanapun hal ini bentuk komitmen kami mendukung ekosistem halal di kota ini,” katanya.

Dari sisi pemanfaatan, Dade mengatakan, konsumen paling banyak menggunakan kartu pembiayaan syariah tersebut untuk kebutuhan wisata religi, umroh, dan kurban.***

Bagikan: