Pikiran Rakyat
USD Jual 14.116,00 Beli 14.214,00 | Badai petir, 27.5 ° C

Fintech Harus Tingkatkan Sekuriti

Ai Rika Rachmawati
FINTECH.*/Ist
FINTECH.*/Ist

BANDUNG, (PR).- Financial technology (fintech) harus meningkatkan aspek sekuriti untuk menekan potensi fraud dan melindungi data nasabah. Di beberapa negara maju, penyedia jasa keuangan fintech telah menerapkan sistem sekuritas dengan ISO 27001:2013.

Demikian diungkapkan Chief Digital E-commerce Fintech (DEF) Sharing Vision, Nur Islami Javad (Jeff), di Bandung, Jumat, 11 Oktober 2019. Menurut dia, di Indonesia, baru sebagian kecil entitas fintech yang telah mengantongi standar mutu ISO 27001.

"Secara korporasi, mungkin mereka telah memiliki lisensi. Akan tetapi, standar sistem keamanan juga mesti dimiliki, baik dari sisi aplikasi maupun sumber daya manusianya," ujar Jeff.

Perlindungan ISO 27001: 2013 dituangkan dalam 14 klausa yang mengandung 113 kontrol. Beberapa di antaranya terkait kebijakan keamanan informasi, keamanan sumber daya manusia, manajemen aset, kontrol akses dan kelola akses pengguna, keamanan operasional, komunikasi yang aman dan transfer data, manajemen insiden, dan lainnya.

"Beberapa enterprise yang telah menggunakan ISO 27001 diantaranya adalah Amazon Web Service (AWS), Microsoft Azure, Teradata, IBM Cloud, Google Cloud, dan masih banyak lagi," kata Jeff.

Ia mengatakan, diperlukan sinergi antara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai pengawas, Bank Indonesia, Kementerian Komunikasi dan Informatika, dan lembaga terkait lainnya, untuk memaksimalkan penerapan standar sistem keamanan bagi fintech di Indonesia. Menurut dia, sinergi untuk perlindungan konsumen ini perlu diatur melalui payung hukum mengikat untuk menghindari tumpang tindih kebijakan.

Populer

Saat ini, fintech mulai banyak dilirik masyarakat Indonesia, termasuk pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM), sebagai alternatif pembiayaan. Kemudahan menjadi alasan semakin menanjaknya popularitas fintech.

"Untuk layanan pembayaran misalnya, fintech menjadi pilihan masyarakat karena simpel dan efisien, tidak perlu datang ke bank, dan aman," ujarnya.

Pengguna umumnya memanfaatkan fintech pembayaran untuk transportasi online, delivery makanan, belanja di e-commerce, membayar resto, transportasi, dan lainnya. Sisanya untuk pembayaran utilitas seperti tagihan PLN, PDAM, dan lainnya.

"Sementara pengguna fintech peer to peer lending memilih layanan ini karena proses pengajuan yang mudah dan pencairan yang cepat," kata Jeff.

Namun sayangnya, di tengah popularitas yang kian menanjak, fintech masih menyisakan sejumlah kendala. Khusus untuk layanan fintech pembayaran, hal yang paling sering dikeluhkan adalah aplikasi sulit diakses.

"Sebanyak 62% responden dalam survei yang kami lakukan mengaku bahwa keluhan mereka terkait fintech adalah aplikasi tidak bisa digunakan atau diakses," ujarnya.

Sebanyak 25% mengaku pernah mengalami nominal saldo berkurang padahal tidak melakukan transaksi. Sementara 24% melakukan top up namun saldo tidak bertambah dan 9% responden mengalami persoalan lainnya.***

Bagikan: