Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Langit umumnya cerah, 19.1 ° C

Kondisi Politik Mulai Kondusif, Properti Kembali Menggeliat

Ai Rika Rachmawati
MARKETING General Manager Podomoro Park Bandung, Tedi Gusnawa, berbincang dengan Marketing Manager Podomoro Park Bandung, Dipa Teguh, pada Konferensi Pers Peluncuran Klaster Bhayugriya di Podomoro Pavilion, Bandung, Rabu, 9 Oktober 2019.*/Ai Rika Rachmawati/PR***
MARKETING General Manager Podomoro Park Bandung, Tedi Gusnawa, berbincang dengan Marketing Manager Podomoro Park Bandung, Dipa Teguh, pada Konferensi Pers Peluncuran Klaster Bhayugriya di Podomoro Pavilion, Bandung, Rabu, 9 Oktober 2019.*/Ai Rika Rachmawati/PR***

BANDUNG, (PR).- Pasar properti ke depan diprediksi akan semakin menguat, seiring dengan mulai pulihnya kondisi politik. Permintaan terus menggeliat, apalagi bagi properti yang mampu memberikan konsep serta fasilitas mumpuni.

Demikian diungkapkan Marketing General Manager Podomoro Park Bandung, Tedi Gusnawan, di Podomoro Pavilion, Bandung, Rabu, 9 Oktober 2019petang. Seperti diketahui, 2019 banyak dianalogikan sebagai tahun yang sulit bagi bisnis properti Indonesia pada umumnya.

"Ke depan akan semakin baik. Kami sendiri saat ini mengalami percepatan penjualan, sehingga membuat kami memutuskan untuk mempercepat jadwal pemasaran klaster baru," ujarnya.

Ia mengatakan, semula klaster terbaru Bhayugriya akan dipasarkan pada akhir tahun. Akan tetapi, karena tiga klaster perumahan yang sudah diluncurkan sebelumnya hanya tersisa 10%, pihaknya mempercepat pemasaran menjadi mulai 10 Oktober ini.

Berbeda dengan kondisi sektor properti pada umumnya, menurut Tedi, bagi Agung Podomoro Land, sebetulnya tahun ini cukup baik. Pasalnya, melalui Podomoro Park Bandung, pihaknya mampu mencapai penjualan lebih dari 600 unit dalam waktu satu tahun.

"Capaian ini kami peroleh melalui terobosan dengan mengubah strategi pasar dari yang sebelumnya fokus membidik investor menjadi fokus ke end user," ujarnya.

Seperti diketahui, minat end user membeli properti untuk kebutuhan rumah tinggal tidak surut dan tidak banyak terpengaruh kondisi politik. Pasalnya, rumah tinggal merupakan salah satu kebutuhan utama.

Diberitakan Pikiran Rakyat sebelumnya, secara umum sampai pertengahan tahun ini, bisnis properti mengalami perlambatan. Akan tetapi, sektor properti diprediksi akan menggeliat begitu memasuki semester II/2019 seiring dengan selesainya agenda politik pemilihan presiden.

Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Real Estate Indonesia (REI) Jabar, Joko Suranto, sempat mengatakan, hingga pertengahan tahun ini bisnis properti di Jawa Barat (Jabar) mengalami perlambatan sekitar 20%-25%. Jika diakumulasikan sejak 2015, perlambatan bisnis properti Jabar diperkirakan mencapai 30%-35%.

Bahkan, menurut dia, untuk segmen tertentu, perlambatannya bisa jauh lebih besar. "Untuk rumah dengan harga di atas Rp 1 miliardan apartemen, perlambatannya bisa 60% sampai 70%," katanya, Juli lalu.***

Bagikan: