Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Langit umumnya cerah, 22.7 ° C

Terkendala Pakan Ternak, Produksi Susu Lokal Hanya Penuhi 20% Kebutuhan

Ai Rika Rachmawati
SEORANG warga menunjukkan sapi perah peliharaannya di Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Senin, 29 April 2019.*/HENDRO SUSILO/PR
SEORANG warga menunjukkan sapi perah peliharaannya di Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Senin, 29 April 2019.*/HENDRO SUSILO/PR

BANDUNG, (PR).- Terkendala pakan hijauan, produksi susu lokal baru memenuhi 20% kebutuhan nasional. Padahal, pada 2025, Indonesia menargetkan untuk bisa memenuhi 50% kebutuhan susu secara mandiri.

Demikian diungkapkan Ketua Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI), Dedi Setiadi, pada Focus Group Discussion (FGD) Koperasi Persusuan yang digelar Dewan Koperasi Indonesia Wilayah (Dekopinwil) Jawa Barat (Jabar). FGD digelar di GKSI Jabar, Jalan Rumah Sakit, Bandung, Rabu, 9 Oktober 2019.

Ia mengatakan, kendala terbesar untuk meningkatkan produksi susu adalah sebagian besar peternak sapi perah di Indonesia, termasuk Jabar, tidak memiliki lahan untuk menanam rumput sendiri. "Hampir 70% peternak tidak memiliki lahan untuk menanam rumput," katanya. 

Sebanyak 20% peternak memiliki lahan, tapi jumlah rumput yang dihasilkan tidak mencukupi kebutuhan. Hanya 10% peternak Indonesia yang memiliki lahan dengan hasil rumput yang mampu mencukupi kebutuhan pakan ternaknya.

ILUSTRASI susu.*/DOK PR

"Sebetulnya, salah satu solusi dari persoalan ini adalah bekerja sama dengan Perhutani dengan sistem bagi hasil," kata Dedi.

Saat ini, menurut dia, sudah ada peternak yang bekerja sama dengan Perhutani. Namun, persoalannya, ada tanaman keras di area itu, sementara rumput hanya menjadi tanaman sela.

"Idealnya adalah bekerja sama dengan perkebunan. Saat ini kami sudah menjajaki kerja sama dengan PTPN VIII. Uji coba akan dilakukan di Pangalengan dan Lembang," tuturnya.

Strategi membuat silase dan rencana belajar ke Jepang

Rencananya, menurut dia, di lahan tersebut akan ditanam jagung untuk kemudian dibuat silase. Pakan ternak sapi berupa silase awet hingga enam bulan.

"Nantinya, silase akan dijual melalui koperasi. Kami tidak akan ambil untung. Dengan silase, selain lebih efektif dan efisien karena peternak tidak perlu nyambit sendiri, produktivitas peternak juga akan lebih tinggi," ujarnya.

Ia mengatakan, saat ini, jumlah peternak di Jabar sekitar 16.000 orang. Sementara, jumlah sapi sekitar 62.000 ekor dengan rata-rata produksi susu sebanyak 451 ton per hari.

KETUA Dewan Koperasi Indonesia Wilayah (Dekopinwil) Jawa Barat (Jabar), Mustopa Djamaludin (baju putih di tengah) berbicara pada Forum Grup Diskusi (FGD) Koperasi di Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) Jabar, Jalan Rumah Sakit, Bandung, Rabu, 9 Oktober 2019.*/AI RIKA RACHMAWATI/PR

Ketua Dekopinwil Jabar, Mustopa Djamaludin, mengatakan, saat ini lahan dan pakan memang menjadi persoalan terbesar peternak sapi. Padahal, pakan merupakan sarana pendukung utama bagi peternakan sapi.

"Maraknya alih fungsi lahan membuat lahan dan pakan menjadi salah peraoalan terbesar bagi sektor peternakan saat ini. Di Lembang dan Pangelangan sudah terjadi pergeseran besar. Begitu juga di daerah Jabar lainnya," ujar Mustopa.

Oleh karena itu, kata dia, diperlukan strategi untuk memecahkan persoalan lahan dan pakan untuk meningkatkan produksi susu, salah satunya silase. Mereka pun berencana memelajarinya ke Kitakyushu, Jepang. Peternak Jepang juga memiliki keterbatasan lahan, tapi memiliki stok pakan yang cukup untuk keperluan sampai dua tahun.

Sementara di Indonesia, menurut dia, stok untuk enam bulan saja sulit ditemukan. Apalagi saat memasuki musim kemarau seperti sekarang, pasokan pakan semakin sulit dan mengalami penurunan.***

Bagikan: