Pikiran Rakyat
USD Jual 14.089,00 Beli 14.187,00 | Umumnya cerah, 24.2 ° C

Media Sosial jadi Nomor Satu Sumber Penyebaran Hoaks, Kerugiannya Capai Ratusan Juta Rupiah

Ai Rika Rachmawati
ILUSTRASI hoaks.*/ DOK. PIKIRAN RAKYAT
ILUSTRASI hoaks.*/ DOK. PIKIRAN RAKYAT

BANDUNG, (PR).- Nilai kerugian ekonomi yang ditimbulkan dari penyebaran hoaks sangat besar, bahkan bisa dikategorikan tidak terhingga. Di sejumlah negara, sebuah hoaks bisa menimbulkan kerugian hingga ratusan juta rupiah.

Demikian diungkapkan Chief Executive Officer (CEO) Lembaga Riset Telematika Sharing Vision, Ali Akbar, di Bandung, Selasa, 8 Oktober 2019. Akan tetapi, menurut dia, kerugian terbesar berupa nonmateriel, rusaknya persatuan, dan persaudaraan.

"Hoaks sangat berbahaya, baik secara ekonomi maupun non-ekonomi. Bisa kita lihat dari kasus kerusuhan di Wamena," tuturnya.

Ia mengatakan, jika terjadi pada dunia usaha, sebuah hoaks bisa membuat potensi menghilangkan peluang usaha dan keuntungan. Hoaks bisa membuat klien dan calon klien menjauh.

"Hoaks juga bisa membuat konsumen lari dan pada gilirannya akan menekan angka penjualan dan omzet usaha," ujarnya.

Menghilangkan kepercayaan pasar

Dampak yang paling besar, menurut dia, akan terjadi pada perusahaan yang melantai di bursa. Hoaks berpotensi menghilangkan kepercayaan pasar dan pada gilirannya akan menekan harga saham.

"Bagi dunia usaha, kepercayaan itu sangat penting dan dampaknya akan sangat luas, khususnya untuk pemasaran," ujarnya.

Ia mencontohkan, sejumlah kasus hoaks yang sempat terjadi di sejumlah negara. Di Inggris, sebuah hoaks via telepon pada 2017 merugikan pihak rumah sakit sebesar 2.465 Poundsterling atau Rp 45 juta menurut kurs saat ini (1 Poundsterling = Rp. 18.087). 

"Itu merupakan ongkos yang dikeluarkan untuk pengiriman ambulans pada kasus hoaks tersebut," ujarnya.

Ongkos besar lainnya akibat hoaks, dikatakan Ali, juga harus diderita bandara Manchester pada 2014 ketika muncul hoaks bom di Maskapai Qatar Airways. Dikutip dari The Guardian, Senin, 7 Januari 2019, pengamat industri penerbangan menyebut evakuasi massal penumpang akibat hoaks ini memberikan kerugian puluhan ribu Poundsterling atau setara ratusan juta rupiah.

"Studi Global Disinformation Index menemukan, perusahaan-perusahaan teknologi mengeluarkan sekitar 235 juta dolar AS per tahun untuk beriklan di situs-situs penyebar disinformasi," ujar Ali.

Bersasarkan studi Global Disinformation Index, beberapa perusahaan teknologi yang beriklan di situs-situs penyebar disinformasi antara lain adalah Amazon, Office Max, Sprint, dan Google. Studi tersebut juga menyebutkan, mereka mendanai situs-situs itu tanpa sadar.

Media sosial

Chief Digital E-commerce Fintech (DEF) Sharing Vision, Nur Islami Javad (Jeff), mengatakan, media sosial (medsos) menjadi media nomor satu penyebar hoaks. Sementara itu, rata-rata penggunaan medsos di Indonesia mencapai 3 jam 26 menit. 

"Berdasarkan hasil survey Sharing Vision, 69% responden memang sudah memiliki kesadaran untuk memeriksa kebenarannya ketika menerima berita heboh," ujarnya.

Namun, masih banyak yang menggunakan alasan bahwa berita diperoleh dari orang yang dapat dipercaya untuk meneruskan berita heboh tersebut kepada pihak lain. Akibatnya, sampai saat ini bahaya hoaks masih terus mengintai.***

Bagikan: