Pikiran Rakyat
USD Jual 14.089,00 Beli 14.187,00 | Umumnya cerah, 24.2 ° C

Hampir Semua Daerah Gagal Panen, Bulog Pastikan Harga Beras Stabil

Ai Rika Rachmawati
ILUSTRASI.*/ANTARA
ILUSTRASI.*/ANTARA

BANDUNG, (PR).- Perum Bulog Divisi Regional (Divre) Jawa Barat (Jabar) berjanji, kekeringan dan kemarau panjang yang terjadi di sejumlah daerah tidak akan mengerek harga jual beras di pasaran. Stok beras di gudang Bulog melimpah dan akan mencukupi kebutuhan hingga panen raya tiba.

Kepala Bulog Divre Jabar, Benhur Ngkaimi, berjanji, Bulog akan menjaga stabilitas harga beras di pasaran. Untuk itu, ia menghimbau agar masyarakat tidak panik dan cukup berbelanja beras sesuai kebutuhan.

"Stok beras Bulog luar biasa banyak. Kami akan memasok berapapun kebutuhan pasar," ujarnya, di Jln. Soekarno Hatta, Bandung, akhir pekan lalu.

Kalaupun di lapangan terjadi indikasi potensi kenaikan harga, menurut dia, Bulog akan menggelontorkan stok yang tersimpan di gudang agar harga kembali normal. Saat ini pun Bulog terus melakukan operasi pasar melalui distributor dan jaringan outlet Bulog di seluruh wilayah.

"Saat ini jumlah outlet Bulog, baik Toko Pangan di pasar dan Rumah Pangan Bulog  di semua wilayah berjumlah 15.400 unit," kata Benhur.

Jika dalam perjalanan menuju panen raya terjadi kenaikan harga beras, ia berjanji, Bulog akan 'menyerang' titik-titik yang mengalami kenaikan harga. Ia menjamin, jika swasta dan pedagang mengetahui bahwa stok beras Bulog melimpah, mereka tidak akan berani berspekulasi menaikkan harga jual beras. 

Menurut dia, saat ini stok beras di gudang Bulog Jabar mencapai 360.000 ton. Kebutuhan Jabar untuk ketahanan pangan sampai akhir tahun, selama tiga bulan, diprediksi Benhur mencapai 125.000 ton.

"Masih ada sekitar 230 ribuan lagi. Kalau Januari sampai Februari belum ada panen, stok yang ada masih sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan beras di Jabar," ujarnya.

Kegagalan panen di hampir semua daerah

Benhur mengatakan, saat ini panen gadu di Jabar sudah selesai dan hampir semua daerah diindikasikan mengalami gagal panen. Di wilayah Ciamis juga Pantai Utara Jawa (Pantura), seperti Cirebon, Indramayu, dan Subang, umumnya hanya bisa panen jerami karena lahan terlalu kering.

"Hampir semua gagal panen. Ini yang membuat kekhawatiran terkait pasokan dan harga. Akan tetapi, kami kembali menegaskan, kalaupun terjadi gagal panen, stok melimpah," katanya.

Menurut Benhur, sebetulnya kenaikan harga merupakan masalah psikologis. Itulah mengapa biasanya periode tertentu, menjelang panen, banyak dimanfaatkan spekulan untuk mendapatkan keuntungan lebih besar dengan menaikkan harga jual.

Ia tidak menampik, saat ini pun sudah mulai terjadi gejala kenaikan harga dengan menjual isu gagal panen yang teejadi di sejumlah daerah lumbung padi. Akan tetapi, menurut Benhur, kenaikan harganya tidak signifikan.

"Sudah ada yang naik sekitar Rp 200-Rp 300 per kilogram, tapi belum signifikan. Kalau kita gelontorkan stok, harga beras akan kembali stabil," ujarnya.

Apalagi, menurut dia, baik pada masa panen raya maupun kekeringan panjang, harga beras kualitas medium yang dijual Bulog tetap Rp 8.100 per kilogram (kg). Begiti juga harga beras premium, menurut dia, tidak akan melebihi harga eceran tertinggi (HET).

"Saat ini 70% masyarakat mengkonsumsi beras medium," ujarnya.***

Bagikan: